| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MEDIO September lalu, saya menonton sebuah film berjudul Kaka Bos. Film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang pria asal Indonesia Timur, yang dikenal dengan nama "Kaka Bos". Sosok Kaka Bos adalah pemilik usaha jasa keamanan dan mendapat cap sebagai preman yang menakutkan.
Dalam keseharian menjadi bos, tidak ada seorang pun yang berani menentang Kaka Bos. Setiap tindakannya, baik maupun buruk, disanjung dan dipuja.
Lingkungan di sekitarnya penuh dengan orang-orang yang merasa terancam untuk menyampaikan kebenaran, tetapi tidak berani melakukan perlawanan dan hidup dalam kepura-puraan.
Menonton film ini, saya merasa ada potret yang sangat familiar dengan dinamika lingkungan kerja, baik di kantor sektor pemerintah maupun swasta.
Dalam banyak hal, kita sering melihat sosok pemimpin yang seperti Kaka Bos, yang setiap perintah atau pendapatnya harus diterima tanpa kritik, tanpa ruang untuk diskusi, negosiasi atau kompromi.
Sosok Kaka Bos adalah cerminan pemimpin yang tak tersentuh, sementara orang-orang di sekitarnya menjadi "jongos” yang layuh.
Dulu kata "jongos" merujuk pada seseorang yang bekerja sebagai pelayan. Kata jongos ini dianggap sebagai profesi yang terhormat karena bertugas melayani orang lain.
Namun, seiring waktu, makna kata jongos mengalami peyorasi, atau penurunan nilai. Kini, kata ini sering digunakan dengan konotasi merendahkan, menggambarkan seseorang yang bekerja patuh secara membabi buta tanpa inisiatif, pertanyaan dan sanggahan.
Dalam dunia kerja, fenomena ini sebagai "etos kerja jongos". Pekerja di posisi ini tidak berani menyampaikan pendapat, apalagi berbeda pendapat. Mereka hanya mengikuti arus dan memastikan bahwa segala sesuatu "baik-baik saja" di mata pimpinan, meskipun harus lari dari kenyataan.
BACA JUGA: Basa-basi Seleksi Pejabat di Daerah
Akibatnya, lingkungan kerja menjadi kurang dinamis dan cenderung stagnan dalam hal perubahan, atau bahkan mengalami penurunan. Istilah Asal Bapak Senang (ABS) sangat relevan terlibat dalam fenomena ini. Para pekerja pun berlomba-lomba untuk membuat pimpinan senang yang seringkali mengorbankan kebenaran.
Para pekerja cenderung selalu berkata "siap, pak", "aman, pak" atau “terkendali, pak” meskipun mereka tahu bahwa keputusan yang diambil mungkin tidak tepat.
Selain itu, mereka lebih memilih diam daripada menyampaikan pendapat yang berbeda karena takut akan sanksi atau kehilangan kesempatan dari pimpinan.
ABS menciptakan lingkaran setan. Pimpinan yang gemar disanjung atau dihormati secara berlebihan malah menguatkan budaya kepatuhan.
Pimpinan cenderung tidak menyadari bahwa mereka sedang menumbuhkan etos kerja jongos di lingkungan kerja. Bahkan, ada kalanya pimpinan tidak memahami dampak negatif dari “sooor” atas kebiasaan ini, yang pada akhirnya ABS mengakar kuat dan menggurita dalam lingkungan kerja.
Di sinilah jebakan besar ABS, bawahan yang merasa harus selalu mengikuti perintah tanpa berpikir kritis, dan pimpinan merasa terlena, semuanya berjalan baik-baik saja karena tidak ada yang berani menyampaikan berseberangan.
Dalam buku "Manusia Indonesia", Mochtar Lubis menggambarkan satu ciri dari tujuh ciri manusia Indonesia adalah hipokritis atau munafik. Ini merupakan sikap berpura-pura, seseorang menampilkan sesuatu yang berbeda di depan, tetapi menyembunyikan kebenaran di balik topeng.
Sikap ini sudah ada sejak lama, sebelum dijajah bangsa asing, ketika masyarakat Indonesia terpaksa menyembunyikan perasaan atau pikiran mereka karena takut mendapatkan hukuman dari penguasa.
Lebih lanjut, Mochtar Lubis menggambarkan bagaimana rakyat dahulu harus memasang "topeng", bersandiwara dengan lugas untuk melindungi diri mereka dari kekuatan-kekuatan feodal yang menindas.
Sikap ini masih relevan hingga sekarang, terutama dalam dunia kerja yang terkekang. Banyak pekerja yang memilih untuk memasang "topeng" demi menyenangkan pimpinan, daripada menyampaikan kebenaran yang mungkin tidak menyenangkan.
BACA JUGA: Menilik Pencopotan Pejabat Pasca Pilkada
Etos kerja jongos dan ABS adalah cerminan dari sikap hipokrit ini. Di depan pimpinan, semua terlihat baik-baik saja, tetapi di belakang, banyak masalah yang sebenarnya tidak terselesaikan.
Pekerja mungkin tahu bahwa ada keputusan yang salah atau kebijakan yang tidak tepat, tetapi mereka tidak berani menyuarakannya karena takut terdamprat.
Menonton film Kaka Bos, kita dapat melihat betapa berbahayanya etos kerja jongos ini jika dibiarkan berlarut-larut. Tidak adanya ruang untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat dapat menciptakan bom waktu yang suatu saat akan meledak mendadak.
Keputusan-keputusan yang salah akan terus diambil tanpa ada yang berani mengoreksi, dan pada akhirnya, lingkungan kerja akan mengalami kerugian yang besar sepanjang hari.
Film Kaka Bos mengajarkan kepada kita bahwa budaya kerja yang mengedepankan kepatuhan tanpa ruang untuk kritik atau diskusi hanya akan merugikan banyak pihak.
Kritik dan diskusi terbuka sangat diperlukan untuk menciptakan keputusan yang lebih baik atau memberikan solusi yang lebih tepat. Pimpinan harus membuka ruang bagi para pekerja untuk memberikan masukan, bukan justru menciptakan ketakutan atau tekanan untuk selalu pemikiran sejalan.
Selain itu, kita harus berani keluar dari etos kerja jongos yang hanya bertujuan untuk menyenangkan pimpinan, dan mulai mengedepankan sikap jujur, terbuka, serta tanggung jawab terhadap pekerjaan kita.
Berapa banyak waktu, energi, dan sumber daya lain yang terbuang hanya untuk memenuhi keinginan pimpinan yang garang? Jika saja ada keberanian untuk menyampaikan pendapat berbeda atau menawarkan alternatif, banyak masalah yang bisa dihindari sedari dini.
Sikap seperti ini harus ditumbuhkan di lingkungan kerja kita. Lingkungan kerja yang sehat bukanlah tempat pimpinan selalu benar dan bawahan selalu mengikuti tanpa berpikir.
Sebaliknya, lingkungan kerja sehat adalah tempat setiap orang, dari pimpinan hingga pekerja, bisa berkontribusi secara aman untuk memberikan kritik dan saran, menghargai setiap masukan, bukan yang hanya bergantung pada satu suara pimpinan.
====
Penulis adalah warga Kota Medan.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

