| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SAYA jemaat Katolik. Artinya, saya bukan jemaat HKBP. Namun, ketika membaca berita bahwa Pak Gubernur Bobby Nasution meminta persetujuan agar jemaat HKBP menjadi Sekda Provinsi Sumatra Utara, saya sangat bahagia. Bukan berarti dalam penempatan jabatan itu berdasarkan ras dan agama. Bukan itu poinnya.
Poinnya adalah penghargaan dan keterwakilan. Itu persis ibarat ketika calon pilihan kita terpilih, kita pasti bahagia, malah terharu.
Kita merasa terwakili. Begitu juga dengan kemauan dari Pak Bobby terhadap Ephorus HKBP pada perayaan Paskah. Dalam berita disebut itu adalah kado yang diminta Pak Bobby terhadap Ephorus.
Namun, bagi saya, itu justru kado dari Pak Bobby untuk tidak saja jemaat HKBP, tetapi jemaat Katolik dan gereja kesukuan lainnya di Sumatra Utara.
Ini menjadi kado yang berharga setelah sekian lama ada sinyal-sinyal, tetapi tetap tak terealisasi. Apakah di masa Pak Bobby akan terealisasi? Waktu akan menjawab.
Tetapi, kemauan dari Pak Bobby memberikan kado itu adalah sudah sangat spesial. Tentu, memang, aspek utama yang menjadi penentuan kelayakan untuk menjadi Sekda Provinsi Sumatra Utara tetaplah harus mengacu pada kemampuan, integritas, dan kapabilitas. Jalur meritokrasi jabatan itu tetap harus digulirkan.
Nah, andai kemampuan dan integritas itu sudah ada pada jemaat dimaksud, maka silakan diberikan. Namun, jika belum memenuhi kriteria utama itu, seharusnya tak perlu diberikan.
Jangan atas nama keterwakilan malah menumbalkan kegesitan pembangunan ala Gubernur Bobby Nasution yang memang terlihat lincah.
Satu yang pasti, optimisme di masa kepemimpinan Bobby Nasution pantas untuk ditunggu. Lembaga kemasyarakatan, termasuk gereja harus mendukung, terutama untuk percepatan pembangunan.
BACA JUGA: Hadiri Paskah Raya 2025, Gubernur Bobby Nasution Umumkan Calon Sekdaprov Sumut dari Jemaat HKBP
Arti mendukung tentu tidak sesempit ikut menjabat. Arti mendukung juga bukan berarti tak bisa mengkritik dan memberi masukan.
Mendukung yang sejati adalah tetap memberi masukan manakala ada yang terlihat keliru meski diberi kepercayaan menjabat. Mendukung bukan berarti menjadi mematikan nalar kritis.
Dalam hal ini, HKBP sebagai institusi penjaga moral dan nalar harus tetap proaktif. Itu seperti kepemimpinan Paus Fransiskus. Ia mengkritik bukan atas dasar kebencian.
Ia mengkritik atas dasar ukuran kebaikan bersama. Maka, ketika wafat, Paus Fransiskus tidak lagi hanya milik jemaat Katolik. Ia sudah menjadi milik bersama sesama manusia.
Kiranya, begitulah yang diharapkan dari lembaga keagamaan. Bagaimanapun, mereka adalah benteng penjaga nalar, terutama moral bangsa.
Saya yakin, HKBP akan tetap memainkan peran sentralnya. Toh, belakangan ini, di bawah kepemimpinan Ephorus HKBP yang baru, misi ekologi tetap diutamakan.
Gerakan sadar alam berupa menjaga hutan tetap menjadi bagian prioritas. HKBP mulai berbicara di mimbar yang lebih luas, yaitu tidak saja mimbar agama, tetapi juga mimbar kehidupan.
HKBP pantas diapresiasi. Perkembangan kesadaran dan misinya mulai meluas. Mereka tidak saja sebagai institusi agama, tetapi menjadi alat diplomasi budaya.
Malah kini, HKBP juga menjadi benteng penjaga budaya. Setidaknya, di mana-mana kini kata Batak sudah populer, termasuk di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, bahkan Amerika.
Hal itu terjadi karena HKBP tidak hanya membonceng nama Batak pada nama gerejanya, tetapi juga karena menghidupi budaya Batak itu sendiri.
Benarlah kata ungkapan orang selama ini bahwa ketika orang Batak merantau, soliditas mereka untuk memperjuangkan budaya dan agamanya tak diragukan. Tu ginjang rap mangakkat, tu toru rap manimbung.
Maka, begitu mereka berjumpa di tempat yang baru, mereka mendiskusikan untuk mendirikan gereja yang baru. Semoga HKBP tetap berkembang tanpa lupa untuk membenahi diri.
Membenahi diri, misalnya, supaya para pengurus gereja tetap menjadi teladan kesederhanaan hidup dan iman. Pendeta harus sejahtera, tetapi jangan sampai menyulitkan umat.
Akhirnya, terima kasih kepada Pak Gubernur Sumatera Utara. Niscaya, segala niat dan kegesitan pembangunan dari Bapak akan didukung oleh semua pihak.
BACA JUGA: Suara Kenabian Tokoh Agama dari Danau Toba
Semoga bapak diberkati yang Mahakuasa untuk dapat membawa Sumatera Utara ini menjadi provinsi yang gesit dalam urusan birokrasi dan meritokrasi, beda dari sebelumnya.
Kami yakin pada sepak terjang Bapak, apalagi selain sudah berpengalaman, juga masih berada pada usia yang masih tergolong muda. Apakah ada yang tidak suka dengan Bapak?
Tentu saja, sebab kita lahir bukan untuk disukai banyak orang. Toh, Yesus yang nyata-nyata berbuat kebaikan saja masih tetap dibenci, bahkan disalib.
Jadi, jangan atas dasar ada yang tak suka, maka Bapak berkecil hati. Dalam Kitab Suci kami ketika Yesus sudah menuju keabadian setelah menderita disiksa, Ia masih bersuara lantang dan berdoa: ampunilah mereka sebab mereka tak tahu apa yang mereka perbuat.
Begitu juga dengan rakyat, kadang mereka membenci atas dasar yang mereka tidak tahu.
Mauliate Pak Gubernur dan semangat selalu!
====
Penulis guru bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Doloksanggul, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 6.000-7.000 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

