| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SAYA tak tahu apakah Bupati Dosmar Banjarnahor pernah ke Dusun Bungus di Kecamatan Parlilitan. Namun, pendahulunya, Maddin Sihombing sudah pernah. Bungus adalah desa yang sangat tertinggal di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Dusun ini sangat terpelosok.
Bupati Oloan Paniaran Nababan kembali datang ke Bungus. Ia bahkan bermalam di sana. Ia bersama dengan Ketua DPRD Humbahas, Parulian Simamora, pun Sekda. Artinya, semua pimpinan Humbang ramai-ramai datang ke Bungus.
Jika saya orang Bungus, saya sangat berbahagia. Saya seperti merasakan kemerdekaan lagi. Bungus memang desa terpencil. Sangat terpencil. Secara berseloroh, siswa di sana sering kami sebut belum pernah merasakan sekolah yang benar-benar sekolah.
Maka, dengan skema domisili tahun ini, dua alumni SMP Bungus diterima di SMA 1 Doloksanggul. Saya tak tahu apa respons kedua siswa tersebut. Namun, jika saja siswa itu adalah saya, saya serasa baru melihat dunia yang baru. Ini baru namanya baru bersekolah.
Begini sederhananya. Selama ini saya bersekolah dengan 2 orang teman. Itulah sekelas saya selama 3 tahun. Begitu datang ke SMA 1 Doloksanggul dengan jumlah siswa ribuan, saya pasti sangat terkejut. Itulah jika kedua orang siswa itu adalah saya.
Barangkali hal yang sama juga dirasakan kedua siswa baru kami dari Desa Bungus itu. Semoga mereka menjadi inspirasi kelak di kampungnya.
Harus warga kampung itu yang bisa menjadi inspirasi untuk sesamanya. Jika kedua siswa itu berhasil, adik-adiknya akan berkata: mereka bisa kok!
Saya sangat optimis Pak Oloan Paniaran Nababan bisa menjadi wajah baru untuk Humbang Hasundutan: membangun dari pinggiran, terutama daerah Papatar (Pakkat, Parlilitan, Tarabintang). Saya bukan dari daerah itu. Jadi, tulisan ini bukan mementingkan kampung saya.
Sejujurnya, sejak lahir hingga 2023, saya belum pernah berkunjung ke daerah Papatar. Untung kemudian saya terpilih menjadi Guru Pengajar Praktik pada 2023. Kebetulan, guru yang saya dampingi berasal dari Papatar. Betapa terkejutnya saya: Papatar memang sangat tertinggal. Terabaikan.
BACA JUGA: Humbang Hasundutan dan Bupati-bupati Petarung
Itu belum seberapa. Ketika saya ikutan menjadi bagian Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, saya berkesempatan untuk hadir ke pelosok Pakkat, Parlilitan, dan Tarabintang. Saya juga pernah menjadi pemandu bagi BRIN dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Medan ke daerah Parlilitan.
Satu respon mereka saat saya dampingi: Parlilitan ini sangat kaya. Kaya secara kultur. Kaya secara perkebunan dan pertanian. Kaya secara potensi. Malah jangan-jangan banyak tambang di sana. Namun, wilayah itu sangat tertinggal secara pembangunan.
Saya belum pernah ke Bungus. Namun, saya sudah tahu betapa melelahkan hingga sampai ke sana. Butuh pemimpin kuat dan dari hati yang tulus untuk bisa tiba, bahkan bermalam di sana. Semoga pemerintah mulai peduli pada daerah-daerah tertinggal.
Membangun jalan bagi mereka tidak sebatas pekerjaan proyek, tetapi adalah visi pengabdian untuk merekatkan komunikasi antar sesama mereka. Saya pernah mendengar cerita dari seorang guru SMA di Parlilitan pasa masa silam. Ini tentang keteguhan hati mereka.
Bersyukur anaknya telah dididik, ia menenteng anak ternak. Perjalanan butuh hampir 3 jam jalan kaki melewati belantara. Dan, 3 jam itu adalah bagi mereka. Saya katakan bagi mereka karena kecepatan kita berbeda dengan mereka. Saya sudah merasakan itu.
Kami pergi ke Gua Simaninggir di Desa Pusuk Parlilitan. Konon, ada gua Sisingamangaraja XII di sana. Bagi mereka perjalanan ke sana hanya 1 jam lebih sedikit. Nyatanya, kami berjalan hampir 3 jam. Bayangkan dulu perjalanan ke Bungus harus sampai 3 jam.
Saya percaya, setiap pemimpin berkunjung adalah punya visi dan niat baik. Pak Bupati sudah menjejakkan sejarah di sana. Semoga ada pembangunan di sana. Ada kata leluhur, tarida do gajah sian bogasna. Kalau raja sudah singgah, benih pembangunan akan mulai disemaikan. Semoga!
====
Penulis Guru SMA Negeri 1 Doloksanggul, Pembina Sanggar Maduma, TAC Humbang Hasundutan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

