| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KEGIATAN kreativitas kesenian mulai bertumbuh di Humbang Hasundutan. Namun, sifatnya masih sporadis. Walau sporadis, para pelakunya sangat militan dan konsisten. Mereka sudah menunjukkan karyanya dalam berbagai kegiatan resmi kabupaten atau mandiri.
Malahan, beberapa dari mereka sudah mendapatkan fasilitasi dari pusat. Itu menjadi salah satu fakta bahwa pelaku seni dan budaya di Humbang Hasundutan sudah sangat militan dan mampu bertarung secara ide dan gagasan di level pusat.
Namun, per hari ini, Kabupaten Humbang Hasundutan belum juga memiliki dewan kesenian. Di berbagai daerah, dewan kesenian sudah ada. Dewan itu menjadi ujung tombak pembangunan manusia melalui kegiatan-kegiatan kreatif, seperti tari, sastra, kriya, dan lainnya.
Dalam bincang-bincang informal, pelaku seni Humbang Hasundutan sudah beberapa kali berniat membuat asosiasi. Asosiasi dimulai dari diskusi.
BACA JUGA: Melestarikan Haminjon, Merevitalisasi Opera Batak
Namun, karena berbagai kesibukan, diskusi informal itu masih belum intens. Semua masih sibuk dengan rutinitas dan perjuangan masing-masing.
Tetap sporadis dan militan. Saya sendiri bertanya-tanya kapan Humbang punya dewan kesenian? Hingga kemudian, Bupati Oloan Paniaran Nababan mulai memantiknya. Itu pada perayaan Hari Anak di Humbang Hasundutan pada 25 Juli 2025 . Saya terkejut. Sangat terkejut.
Begitu pedulinya berarti beliau terhadap kesenian selama ini meski masih dalam diam. Ya, beberapa dari pelaku seni Humbang memang cenderung merasa seni belum jadi prioritas.Tentu saja hal itu masuk akal. Masih ada sektor lain yang juga penting: pertanian, pendidikan, olahraga.
Namun, sampai kapan seni tidak dipandang? Dan, gayung bersambut, Ketua DPRD Humbang Hasundutan, Parulian Simamora, konon katanya juga membahasnya pada kesempatan yang sama. Ini menjadi sinyal yang baik bagi para pelaku seni militan di Humbang Hasundutan.
Saya mengetahui orang-orang yang militan di bidang seni dari Humbang. Ada di bidang kriya, sastra, literasi, tari, musik, olah suara. Dan masih banyak lagi. Pasti banyak. Intinya, potensi seni di Humbang Hasundutan cukup lengkap dan kompleks.
Apakah pada HUT ke-22 Humbang Hasundutan tahun ini akan muncul dewan kesenian? Kita tidak tahu. Satu yang pasti, tanpa dewan kesenian, kerja-kerja kreativitas toh sudah bermunculan dari Humbang Hasundutan. Apalagi jika dewan itu bisa dibentuk? Pasti makin berdenyut.
Semoga saja dewan ini bisa dibentuk sebagai wadah formal bagi ruang karya. Dengan dewan itu, semua komunitas bisa berbagi panggung secara merata. Dan, semua potensi dimunculkan, seperti kriya, lukis, sastra, literasi, musik, tari, dan sebagainya. Dan sebagainya.
Lalu, siapa seharusnya yang duduk di sana? Saya tak tahu ukuran yang formal. Hanya secara moral, seharusnya yang sudah teruji di bidangnya dan memang militan di bidangnya. Jika boleh, yang lebih dewasa dan berpengalaman secara usia. Itu secara moral.
Dan, harusnya begitu. Pekerjaan kesenian ini adalah pekerjaan keindahan. Tidak hanya keindahan secara visual. Juga keindahan ke dalam hati. Itulah sebabnya di bidang pendidikan, pekerjaan ini disebut sebagai ruang untuk menghaluskan budi, melembutkan perasaan.
Jangan-jangan kacaunya karakter generasi saat ini adalah karena mereka sudah dijauhkan dari kesenian! Jangan-jangan begitu. Saya sebut demikian karena berbagai literatur menyebutkan hal yang sama. Itu seperti literasi. Tak ada kemajuan bangsa tanpa baca buku.
Akhir kata, semoga dewan kesenian Humbang Hasundutan bisa berdiri secara formal. Barangkali itu akan menjadi kado yang indah bagi para pelaku kreatif karena kini mereka akan punya rumah bersama. Mereka tak lagi berjuang sporadis seperti selama ini. Semoga saja!
====
Penulis Guru SMA Negeri 1 Doloksanggul, Pembina Sanggar Maduma, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

