| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MARTUMBA sudah mulai dilupakan. Hampir tak ada lagi yang mengenalnya, apalagi menggalinya. Dalam paparannya, Drs Sabam Sinaga selaku anggota DPR Komisi X di Humbang Hasundutan menyebutkan bahwa martumba itu perlu untuk direvitalisasi dan dikembangkan melalui semacam festival (22 Oktober 2025).
Kebetulan, pembina Sanggar Maduma didapuk menjadi salah satu narasumber tentang martumba. Bagaimana gen Z memandang tumba?
Sejauh pengalaman saya, sangat sedikit siswa yang mengenal tumba. Boleh dikatakan hanya 1 persen saja yang mengetahui tumba. Orang tua? Masih banyak.
Artinya, martumba belum akan terlupakan dalam waktu dekat. Namun, setelah generasi baby boomers dan sebagian kecil dari generasi awal milenial sudah tiada, boleh dipastikan bahwa tumba akan nyaris hilang.
Dalam hal ini, jika dianggap sebagai warisan budaya, tumba sudah harus diperhatikan sejak dini.
Memang, lumayan menantang untuk merevitalisasi tumba. Apalagi tumba dulunya adalah bagian dari permainan tradisi muda-mudi.
Dulu, belum ada listrik. Malam pasti selalu gelap. Namun, ada beberapa malam yang tidak terlalu gelap, yaitu bulan tula (purnama). Malam yang tak gelap ini menjadi sangat istimewa.
Keistimewaan malam bulan purnama tidak disia-siakan warga. Muda-mudi martumba (bermain sambil bekerja), anak-anak bermain-main saja dengan permainan tradisional.
Masyarakat Batak tradisional hidup dari kebiasaan agraris: pertanian. Umumnya, hasil pertanian adalah padi. Dan, padi butuh proses panjang menjadi nasi.
Salah satu proses yang rumit adalah mengubah gabah menjadi beras. Dahulu, kilang belum ada. Pilihan tradisional yang dilakukan adalah menumbuk padi dengan lesung dan alu.
Adalah sangat membosankan menumbuk padi. Malah, dahulu, mereka harus marsirimpa agar menumbuk padi lebih cepat.
Malam purnama menjadi pilihan strategis. Mereka pun menumbuk padi secara bersamaan. Bunyi itu ternyata menghasilkan onomatope: tum dan ba.
Dari sanalah konon katanya nomenklatur tumba. Namun, Tumba secara spesifik berasal dari Pahae. Berbagai lirik lagu sudah memastikan itu bahwa asal mula tumba berasal dari Pahae.
Tumba itu unik. Ia ibarat irisan tortor, permainan tradisi, bahkan opera gaya Batak. Irisan yang diambil dari tortor adalah gerak tarian.
Namun, tumba berbeda dengan tortor. Tortor cenderung ritualistik dan filosofis. Sementara tumba hanyalah permainan kegembiraan.
BACA JUGA: Melestarikan Haminjon, Merevitalisasi Opera Batak
Ada asumsi yang mengatakan tumba itu untuk mengeliminasi ritual. Setelah kekristenan hadir di Tanah Batak, konon yang berbau ritual dicoba dihilangkan.
Tortor seperti dilarang sehingga muncul varian tumba. Tetapi, itu cenderung asumsi. Namun, tumba sudah terbukti menjadi irisan tortor dan permainan.
Dalam tumba, ada lakon sederhana, nyanyian spontan, dan iringan musik yang ritmik. Dengan tumba, kecerdasan verbal kita diasah, perasaan diasuh.
Maka, keterampilan berbicara spontan orang Batak sangat tinggi. Hal ini terlihat dari sastra lisan mereka: andung-andung. Jadi, rasanya tumba perlu direvitalisasi lebih gencar lagi.
Walau memang, upaya revitalisasi martumba tidak akan berjalan mulus. Dulu, mMartumba dipilih karena tidak ada alternatif lain.
Sekarang, sudah banyak alternatif permainan. Malah, bulan purnama tak lagi istimewa karena setiap malam sudah bisa terang. Gen Z memilih asyik dengan gawai.
Sayang, gawai cenderung membuat generasi menjadi soliter. Empati menjadi hilang. Tingginya perundungan menjadi bukti bahwa gen Z sudah terlalu jauh terpapar gawai.
Untuk itu, alternatif hiburan tradisi seperti martumba bisa disemarakkan agar generasi bertumbuh dari akar budaya yang kuat.
====
Penulis Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

