| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

APRESIASI ini tulus disampaikan. Dan, harus disampaikan. Kebetulan, saya mengenal beberapa dari mereka. Melihat bagaimana seorang putri merindukan ayahnya, istri gemetar pada nasib suaminya, orang tua khawatir pada perjuangan anaknya. Seseharinya, mereka bisa bertukar informasi.
Namun, kali ini tidak bisa. Sinyal internet seret. Lagipula, mereka tak punya waktu. Mereka nyaris tak memiliki me-time kalau dalam istilah kekinian. Mereka punya tugas besar: menerangi kembali dunia masyarakat terdampak bencana yang sempat gelap. Tentu, kita tahu arti besar listrik untuk saat ini.
Listrik menjadi segalanya. Begitu listrik padam, kita pasti berkeluh-kesah. Itulah yang dialami masyarakat di daerah terdampak bencana, seperti di pelosok Humbang Hasundutan (Humbahas): Pakkat, Parlilitan, Tarabintang, Onan Ganjang. Listrik padam karena kerusakan. Bergandalah kerisauan masyarakat: bencana, gelap, sinyal seret.
Tak dimungkiri, ada banyak malaikat pada situasi bencana. Mereka hadir melalui stakeholder pemerintahan, relawan, dan pemain lapangan. Salah satunya adalah petugas PLN. Mereka harus bekerja sangat ekstra. Malah ada kisah getir, untuk listrik normal, mereka meregang nyawa.
Mereka berjibaku mengangkat trafo dari lembah ke gunung atau sebaliknya. Membikin tenda darurat. Mereka nyaris bekerja 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 30 hari dalam sebulan. Semua itu dilakukan karena kerusakan demi kerusakan, juga menjadi relawan membantu korban.
Diketahui, Humbahas terdampak bencana di 5 kecamatan. Lokasi terdampak bencana ini ke pusat kota administrasi tergolong jauh: 40-80 kilometer.
Daerahnya perbukitan dan lereng lembah. Lokasi tidak bisa dilalui kendaraan secara normal. Mereka harus mendorong sepeda motor atau bahkan berjalan kaki.
Perjuangan ini tentu harus diapresiasi. Kita harus berhenti pada ucapan klise: mereka sudah digaji dan diupah untuk itu. Tidak. Mereka digaji untuk kondisi normal, bukan kondisi kacau-balau. Jika kemudian mereka bekerja keras untuk ini, tentu itu adalah pengabdian dan harus diapresiasi.
Cara mengapresiasi banyak hal. Mengakui dan menghormati adalah bagian dari apresiasi. Apalagi kita harus menyadari bahwa kerja keras mereka boleh diibaratkan membuat yang baru. Mereka bukan sekadar memperbaiki. Mereka nyaris seperti merintis dan membuat yang baru.
BACA JUGA: Banjir dan Longsor Sumut: Warisan Pahit Pengabaian Ekologis
Saya tidak tahu fakta di lapangan. Namun, menurut data yang saya ketahui, setidaknya 80 tiang jaringan tegangan menengah, 2 gardu distribusi, 11.6 KMS jaringan tegangan menengah, 6.8 kms jaringan tegangan rendah. Sekilas itu terlihat sederhana. Dan, bisa dikerjakan dengan sangat mudah. Apalagi mereka sudah terbiasa.
Namun, harus dipahami, karena akses transportasi terkendala, semua harus dikerjakan manual. Jadi, tidak semudah yang dibayangkan. Mereka bertarung 24 jam.
Mereka menjadi malaikat untuk mengurangi kegelapan masyarakat. Mereka memang tidak menyembuhkan. Tetapi, mereka sudah memudahkan segalanya.
====
Penulis Pembina Sanggar Maduma, Warga Humbahas
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

