| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KEKRISTENAN pertama kali masuk ke Samosir, bermula dari kedatangan misionaris Johannes Warneck. Tepatnya tahun 1893 di bulan Mei, ia datang bersama Bruch dan Pilgram, setelah diutus oleh Ephorus HKBP yang pertama Dr IL Nommensen.
Dengan solu bolon berangkat dari Balige ke Nainggolan mengarungi derasnya ombak Danau Toba. Akhirnya, di dalam rencana pelayanannya, misionaris ini kemudian membentuk pos-pos penginjilan dengan tiga kawasan utama di Samosir, yakni di Palipi (1898), Pangururan (1911) dan Ambarita (1913) (JR Hutauruk, Tebarkanlah Jalamu:2013).
Jika kita melihat strategi pelayanan pekabaran Injil yang dibawakan misionaris Eropa ini, tiga kawasan (segitiga emas) pelayanan dirancang sedemikian rupa untuk mempercepat penyebaran kekristenan.
Jika melihat ketiga kawasan itu; Palipi, Pangururan dan Ambarita, seluruhnya bercirikan pengInjilan berbasis budaya dengan konsep pargodungannya. Serta tidak lupa memberitakan pertobatan di dalam Kristus dan pelaksanaan baptisan kudus.
Bisa kita saksikan baik di Palipi, Pangururan dan Ambarita, seluruhnya memiliki pola pelayanan yang sama; terdapat sekolah, klinik kesehatan, gedung gereja dan sekolah tukkang.
BACA JUGA: Hidup untuk Bekerja atau Bekerja untuk Hidup?
Jejak historisnya masih “bercerita” dengan jelas, dengan ragam gedung-gedung kuno yang bisa kita saksikan di ketiga kawasan sebelumnya. Begitulah pemberitaan Injil dan pelayanan diakonia yang berlangsung berbarengan di dalam misi penginjilan para misionaris di Samosir.
Lantas, perkembangan pelayanan dengan strategi sebelumnya ternyata masih berlangsung, khususnya sejak HKBP di Distrik Samosir dipimpin Praeses Samosir Pdt Rein Justin Gultom STh MA.
Praeses Samosir itu hingga saat ini juga mengembangkan strategi pelayanan diakonia dan pekabaran Injil dengan mengembangkan strategi missionaris sebelumnya.
Sebagai sampel dari konklusi sebelumnya, menarik jika kita melihat lokasi kantor HKBP Distrik Samosir (kawasan pargodungan) yang ada di Pangururan Samosir.
Lokasi pargodungan sangat menarik dan memiliki daya pikat untuk dikunjungi. Dimulai dari adanya kebun anggur, restoran, sekolah, kegiatan pertanian dan peternakan terpadu, penginapan dan gallery tempat kreasi dari karya gereja-gereja lokal yang ada di Samosir.
Mengigat di Samosir ada 114 Gereja HKBP di tingkat lokal (huria). Seluruh keragaman itu bercerita dengan indahnya di kawasan Pargodungan HKBP Distrik Samosir.
Hal demikian merupakan gebrakan yang sangat layak untuk ditiru, khususnya bagi segenap kawasan Gereja HKBP di dunia. Serta dapat menjadi role model, khususnya bagi pelayanan diakonia yang kontekstual dan tidak melupakan azas soli deo gloria (untuk kemuliaan Allah).
BACA JUGA: Memahami Cinta dan Kematian
Strategi yang dikerjakan Praeses Samosir, Pdt Rein Justin Gultom STh MA beserta para pelayan di Samosir tentulah patut untuk direalisasi di HKBP baik di tingkat huria, resort dan distrik.
Tentu tidak berlebihan jika menyampaikan ide pelayanan diakonia ini menjadi role model. Mengingat, beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah Ephorus HKBP ke-13, sekaligus pakar sejarah gereja terkenal bernama Pdt Dr JR Hutauruk.
Di dalam diskusi kami, beliau berpendapat bahwa memang pada dasarnya missionaris gereja tempo dulu melakukan penginjilan melalui katekisasi dan model pargodungan agar dapat ditiru para jemaat gereja.
Model pargodungan yang dimaksud, merupakan kawasan pekarangan gereja yang memang luas adanya, lantaran masyarakat Batak kuno berlomba-lomba menyumbangkan tanahnya untuk gereja.
Lalu, di kawasan gereja yang luas itu, menurut Pdt DR JR Hutauruk, para missionaris memberikan contoh pertanian, peternakan, rumah sakit (klinik), sekolah rakyat dan sekolah tukkang sebagai contoh kepada warga, sekaligus sebagai sarana mendidik masyarakat. Serta sebagai interpretasi pernyataan Nommensen bahwa sulit sekali Injil dikabarkan di dalam kebodohan.
Belakangan, saya ketahui, di pargodungan Distrik Samosir juga berlangsung semarak serupa. Banyak jemaat- Gereja HKBP di seluruh Indonesia yang memilih untuk mendapatkan pembekalan langsung di lokasi pargodungan HKBP Distrik Samosir, serta menginap di tempat itu. Khususnya mempelajari model pargodungan di HKBP Distrik Samosir. Apalagi mengingat kawasan pargodungan tersebut menjawab konteks persoalan umat di tengah kawasan pariwisata Samosir.
BACA JUGA: Seorang Anak Kecil dan Kakek Tua: Sebuah Ulasan tentang Kekuasaan
Selain itu, di lokasi pargodungan Distrik Samosir juga ada gallery, tempat souvenir dan kuliner oleh-oleh hasil binaan Praeses Samosir dari 114 Gereja yang ada di Samosir. Serta, bekerja sama dengan Pemkab Samosir untuk melatih warga-warga Gereja lokal sehingga produk berkualitas tinggi dijajakan di gallery distrik Samosir.
Kecemerlangan penempatan lokasi pargodungan juga tampaknya dipilih dengan pertimbangan yang sangat baik. Lokasi pargodungan di dekat jembatan tano ponggol sekitar 50 m, kemudian dekat water front city sekitar 200 m dan tidak jauh pula dari kawasan pemandian air hangat dan aneka lokasi kuliner di Pangururan Samosir.
Belajar dari strategi pelayanan ini, memang di tengah derasnya arus pariwisata di Samosir, dan banyaknya tantangan seksualitas, morvinisme dan narkoba, para pemuda Gereja HKBP yang dipimpin Praeses Samosir Pdt Rein Justin Gultom STh MA ini juga dikabarkan memperlengkapi pemuda dengan adanya KKI (kebaktian kebangunan Iman) di tiga kawasan utama Samosir; Ambarita, Nainggolan dan Pangururan, yang sama persis dengan strategi yang dilakukan para missionaris melalui Katekisasi. Nyaris di setiap pertemuan hampir 400-500 pemuda hadir di dalam ibadah peneguhan iman ini.
Dari model pelayanan Diakonia HKBP di Distrik Samosir, tentu patut untuk diapresiasi atas kesetiaannya menjalankan misi para perintis Gereja HKBP mula-mula. Serta perlu diacungi jempol pula mengingat adanya kerjasama yang baik dengan jemaat lokal dan pemerintah kabupaten dalam mengembangkan potensi dari warga gereja.
BACA JUGA: Epikurianisme, Stoikisme dan Kekristenan Mengenai Kesenangan
Kerja sama yang baik antara gereja sebagai institusi agama dengan pemerintah di dalam mengembangkan potensi warganya ini patut untuk ditiru di berbagai kawasan pelayanan lainnya, secara umum di seluruh kawasan di Indonesia. Soli deo gloria!
====
Penulis Pemuda di HKBP Distrik Samosir. Peminat kajian filsafat, agama, sejarah dan politik
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

