| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

AGAKNYA saya harus merisikokan diri untuk memberikan suatu penjelasan filosofis-theologis terkait seksualitas. Lantaran, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh berani ingin memberikan penjelasan terkait hal ini.
Sangking jarangnya hasrat seksual dalam pendekatan filosofis-theologis diulas, alhasil banyak lintas generasi yang sering terjerat perilaku menyimpang--yang ada kaitannya dengan masalah seksualitas. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan lansia terjerat kasus serupa. Masalah seksualitas.
Kasus yang paling menghebohkan, tentu saja persoalan yang dihadapi ketua KPU non-aktif, yang baru-baru ini kedapatan melakukan hubungan terlarang dengan seorang Anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Belanda berinisial CAT.
Dalam persidangan yang digelar DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) ditemukan sejumlah fakta bahwa ketua KPU non-aktif telah menawarkan sejumlah hal agar dapat melakukan hubungan badan dengan wanita berinisial CAT ini. Mengerikan!
Tentu agak aneh rasanya, bagaimana mungkin seorang yang telah beristri dapat melakukan tindakan yang tidak bermoral ini. Keadaan serupa di Amerika juga pernah terjadi, dilakukan oleh Bill Clinton dan Monica Lewinsky dengan rentang hubungan sejak tahun 1995 hingga 1997.
BACA JUGA: Hidup untuk Bekerja atau Bekerja untuk Hidup?
Padahal waktu itu, Clinton sudah memiliki seorang istri, Hillary Clinton. Pun demikian dengan ketua KPU non-aktif itu, dia pun memiliki seorang istri cantik, bergelar doktor.
Dari segenap rangkaian persoalan terkait seksualitas itu, kita perlu mendapatkan pemahaman yang utuh soal seksualitas. Terlebih lantaran banyaknya pihak, termasuk pejabat publik, masyarakat sipil dan pemuka agama bahkan yang juga tidak dapat mengendalikan hasrat seksual ini.
Itu sebabnya, tidak mengherankan jika banyaknya alat kontrasepsi, situs pornografi, film dan konten-konten (podcast) erotis mulai banyak bertebaran di dunia maya.
Hal yang lebih menyedihkan lagi, banyak pasangan yang akhirnya memutuskan untuk langsung menikah, hanya karena tidak sanggup menahan hasrat seksual.
Saya rasa, hal ini bukanlah alasan yang tepat untuk menjadi landasan dari dibangunnya keluarga di dalam institusi pernikahan. Lalu setelah menikah mulailah muncul hal-hal menyimpang, mulai dari kecanduan, perselingkuhan dan bahkan aksi “pemerkosaan” di dalam pernikahan.
Belum lagi persoalan bobroknya etika pejabat publik. Mohon maaf, bukan hanya persoalan ketua KPU ini saja. Kemarin di Kementan, lalu ada pula jenedral yang terjerat kasus narkoba, ternyata ada pula kaitan kasusnya dengan perempuan.
Inilah gambaran betapa buruknya etika pejabat publik saat ini. Mungkin mereka pintar dan ahli di dalam tanggung jawab mereka masing-masing, namun karena lemahnya penguasaan diri khususnya hasrat seksual, akibatnya berpengaruh pula terhadap kebijakan dan tanggung jawab para pejabat publik terhadap negara dan masyarakat.
BACA JUGA: Memahami Cinta dan Kematian
Memahami Seksualitas
Tampaknya, ada kekeliruan dari banyak pihak di dalam memahami seksualitas. Banyak orang termasuk para pejabat publik sebelumnya, melupakan hal yang lebih penting daripada sekadar hubungan seksual.
Saya rasa, kebanyakan pihak yang mengingini kenikmatan melalui seks, memiliki pandangan seperti apa yang dikatakan oleh Michael Foucault; bahwa seks merupakan puncak dari kenikmatan sebagai manusia.
Tidak jauh berbeda dengan mitologi Yunani dari dewa Dyonisius yang mengharapkan hasrat yang erotik dan menggebu-gebu. Banyak manusia beranggapan bahwa kebahagiaan adalah seperti apa yang dikemukakan Foucault sebelumnya.
Hal demikian menurut saya; salah dan keliru. Sederhananya begini, jika seorang pecandu seks melakukan hubungan dengan seseorang, biasanya seorang pecandu akan mengingininya lagi dan lagi.
Jika terjadi penolakan dari pasangan, biasanya akan terjadi pemaksaan atau bahkan kekerasan. Itu sebabnya tidak heran, cukup banyak wanita yang melakukan open BO akhirnya dibunuh karena menolak untuk melakukannya kembali, atau karena mengucapkan perkataan yang menyakitkan hati dan lain sebagainya.
Intinya, kecanduan akan membuat suatu link neuron di otak, sehingga memunculkan suatu kebiasaan yang akan sangat sulit untuk diubah kelak. Dan jika terjadi penolakan akan hal itu biasanya tubuh akan memberontak dan memaksa diri untuk memenuhi kebutuhan hasratnya.
Bahkan, boleh jadi luapan emosi itu akan disalurkan secara negatif, baik dengan menikmati konten pornografi, amarah, teriakan, atau bahkan penyiksaan terhadap pasangan.
BACA JUGA: Seorang Anak Kecil dan Kakek Tua: Sebuah Ulasan tentang Kekuasaan
Lagipula, ejakulasi atau masa kenikmatan hanyalah sebentar. Paling 5-10 menit. Lantas, jika demikian halnya hubungan seks, apakah kita dapat mengatakan bahwa seks merupakan puncak dari kenikmatan hidup?
Belum lagi risiko penyakit menular mematikan, seperti HIV Aids, sifilis, kutil dan lain sebagainya. Lalu, jika terjadi kehamilan di luar pernikahan, belum lagi tanggung jawab yang harus diberikan dalam mengatasi persoalan itu, rasa malu keluarga, kekecewaan orang tua dan bahkan penghukuman dari masyarakat akan menjadi bulan-bulanan bagi para pecandu seks.
Termasuk juga dengan pasangan yang sudah menikah, mereka memiliki tanggug jawab yang besar soal mempersiapkan diri untuk masa depan anak-anak, mempersiapkan kebutuhan pokok keluarga, memikirkan kesehatan emosi dan spiritualitas anak dan istri. Itulah tanggung jawan suami pun dengan seorang istri tidak luput dari tanggung jawab serupa.
Sederhananya begini. Saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya kerinduan terutama seorang manusia dari perspektif filosofis theologis bukan soal hubungan seks. Bukan soal menyalurkan hasrat seksual. Bukan itu.
Melainkan, kerinduan terutama seorang manusia adalah agar dapat dikenali dan mengenali. Bahasa sederhananya, manusia merindukan keintiman di dalam hidupnya.
Celakanya, generasi kita saat ini, terlalu menghubungkan antara keintiman dengan hubungan seksual. Padahal keduanya sangatlah berbeda. Akibatnya, banyak pihak yang keliru, menyangka bahwa keintiman akan didapatkan melalui hubungan seks. Belum tentu.
Itu sebabnya, tidak mengherankan bahwa banyak pasangan suami istri yang melakukan hubungan seks namun salah satu pihak memilih untuk berselingkuh. Seperti pejabat publik yang telah diulas di awal pembahasan ini. Kenapa bisa terjadi demikian? Karena seseorang itu sebenarnya merindukan keintiman alih-alih sekadar aktivitas seks.
Serupa pula halnya dengan perilaku penyimpangan seksual lintas generasi, entah terikat dengan pornografi, pemuasan hasrat pribadi, penikmat drama erotis, atau bahkan pelaku kekerasan seksual.
Mereka menyangka bahwa penerimaan diri akan didapatkan di dalam aktivitas sebelumnya. Larut di dalam imazinasi yang menenggelamkan. Padahal tidak demikian!
Hormon bahagia yang membanjiri otak akan terus mununtut lebih dan semakin lebih lagi. Alhasil, mulai muncul rasa cemas, frustrasi dan terjebak di dalam lingkaran setan, merasa bahwa klimaks secara seksual akan dapat mengatasi persoalan yang serupa. Padahal wujud kebahagiaan palsu yang sedang didapatkan di dalam aktivitas sebelumnya.
Itu sebabnya kita perlu mengenali akar persoalan manusia dekade ini. Di tengah terjebaknya manusia dengan ragam aktivitas di hadapan screen membuat kebutuhan untuk dikenali dan mengenali (keintiman) semakin besar.
Naasnya, banyak pihak justru melampiaskan kebutuhan itu dengan meluapkan hasrat seksual dengan ragam perilaku menyimpang (perilaku tidak wajar).
Di dalam tulisan ini, saya menganjurkan bagi segenap kita para pembaca untuk mendapatkan keintiman yang sungguh. Memang benar hormon bahagia juga bisa di dapat dengan menyalurkan hasrat berlebih di dalam tubuh dengan berolahraga, berkebun, berinteraksi dengan hewan peliharaan atau melakukan aktivitas rohani lainnya.
Sejalan juga dengan ide kaum stoik, untuk mengalihkan hasrat berlebih dengan menghabiskan seluruh tenaga di dalam aktivitas fisik sehingga tidak lagi ada waktu untuk memikirkan hal-hal porno.
Ya, saya setuju dengan usul kamu stoik sebelumnya. Ada benarnya. Namun kerinduan untuk dikenali dan mengenali dapat serta merta muncul pula di kemudian hari, jika kita meluputkan kebutuhan esensial manusia ini.
Jika kita melihat tulisan-tulisan penganut agama Abrahamik, bahwa manusia itu memiliki kebutuhan untuk ditolong, ditemani, dibantu. Barulah, di dalam ibadah antara Adam dan Hawa (perjanjian di hadapan Tuhan) baru mereka melakukan aktivitas seksual untuk beranak cucu, bertambah banyak dan memelihara keutuhan ciptaan.
Itu sebabnya, kita perlu membedakan antara keintiman dengan aktivitas seks. Perbuatan seks belum tentu menghasilkan keintiman. Namun sebaliknya pula, keintiman belum tentu –tidak perlu--pula berakhir pada aktivitas seksual.
Keintiman dapat didapatkan dengan persahabatan yang sungguh, saling mengasihi dan menghormati, bercanda seperlunya. Inilah hal yang dicari manusia.
Tentu tidak menjadi soal jika hal ini dilakukan dengan seperlunya. Bukan persekutuan yang hanya sekadar topeng belaka (relasi semu). Saya rasa persekutuan memerlukan keintiman. Inilah hal yang tidak boleh luput dari keluarga, dan bahkan relasi di dalam pertemanan pula.
Dan saya rasa, keintiman itu memiliki sejumlah indikator, yakni sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidak adilan tetapi bersukacita karena kebenaran (dikutip dari tulisan Paulus).
Malahan di dalam keluarga, untuk menghindari jatuhnya anak kepada pergaulan bebas, banyak psikolog sangat merekomendasi agar anak perempuan sejak kecil memiliki momen dekat dengan ayahnya.
Entah makan bakso berdua, jalan ke swalayan berdua, memberikan hadiah dan lain sebagainya. Pun begitu dengan anak pria, perlu memiliki momen dekat dengan ibunya. Tentu di dalam arti yang positif, bukan seperti peristiwa menyimpang beberapa waktu terakhir.
Tujuannya, tentu saja agar anak memiliki gambaran seorang pria atau bahkan wanita yang memiliki tanggung jawab seperti ayah-ibunya.
Selain itu, agar anak merasa dicintai dan tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang sembarangan. Inilah wujud dari keintiman.
Memahami bahwa diri kita dikasihi dan dicintai. Keadaan ini biasanya menghasilkan hasrat yang terkendali dan terbebas dari penyimpangan.
Lalu bagaimana dengan pernikahan? Pertama, tentu di dalam tahap untuk menuju pernikahan, saya rasa untuk memilih orang yang tepat, orang kebanyakan sering sekadar bermodalkan intuisi.
Padahal sebaiknya, sangat perlu membangun pengenalan yang serius terlebih dahulu lewat pengenalan yang sungguh, seperti layaknya sahabat, maka akan ketahuan pada akhirnya apakah kedua pihak cocok atau tidak cocok.
Lagipula, kalau pada akhirnya kita memiliki kedekatan dengan oran gtua dan sahabat-sahabat yang lainnya, maka mereka pun akan dapat pula memberikan saran objektif terhadap relasi yang sedang kita bangun.
Lalu, setelah adanya keintiman yang saling menjaga dan menghormati, serta pengenalan dan perencanaan masa depan yang baik, barulah kedua belah pihak berjanji di hadapan Tuhan melalui acara pernikahan.
Setelah menikah maka prokreasi dan rekreasi tentu dapat dilakukan dengan rasa bertanggung jawab dan saling mengasihi. Baik prokreasi dan rekreasi, keduanya seringkali bukan penyebab utama keintiman, melainkan hanyalah kegembiraan setelah adanya perjanjian (komitmen) untuk menikmati kebaikan Tuhan. That’s it.
Dan saya rasa, sepasang suami istri hidup bersama, mereka masih perlu untuk membangun keintiman yang sungguh pula. Mau mendengarkan dan mendukung pasangan. Mengakui kelemahan dan saling mengampuni. Serta menjaga nama baik kedua belah pihak. Jika dirasa pihak ketiga perlu terlibat tentu berdasarkan kesepakatan bersama.
Begitulah gambaran dari relasi yang sehat. Serta adanya keterbukaan, mengakui kelemahan dan meminta pengampunan. Tidak hanya kepada sesama (khususnya pasangan bagi yang sudah menikah) namun juga meminta pengampunan kepada Pencipta.
Keterbukaan merupakan bagian dari menyingkapkan kegelapan di dalam hati kita. Serta membiarkan hal-hal yang kotor disingkapkan, lalu kemudian dipulihkan menjadi suatu perbuatan baik lewat upaya mengasihi diri sendiri dan sesama secukupnya.
Penutup
Baik seorang single maupun pasangan yang sudah menikah, teramat memerlukan keintiman. Keintiman dapat didapatkan melalui keadaan yang merelakan diri “dikenali dan mengenali” sesuai porsi masing-masing.
Sepanjang seorang yang single memiliki persekutuan yang membangun dan intim maka akan bahagia pulalah hidupnya. Dia merasakan bahwa hidupnya pun merupakan anugrah dari Tuhan, serta memiliki persekutuan yang baik. Keadaan itupun sudahlah sangat baik untuk dihidupi.
BACA JUGA: Epikurianisme, Stoikisme dan Kekristenan Mengenai Kesenangan
Pun demikian dengan sepasang suami istri! Ingat bahwa aktivitas sexual tidak tentu menghasilkan keintiman. Sering kali hal yang dicari manusia adalah keintiman, bukan aktivitas seksual.
Aktivitas seksual hanyalah hadiah Tuhan bagi mereka yang mau berjanji untuk sehidup dan semati. Namun tetap, keintiman jauh lebih utama daripada sekadar aktivitas seksual.
Banyak pejabat publik, maupun lintas generasi jatuh ke dalam dosa seksual, karena mereka mengira bahwa keintiman akan didapatkan melalui aktivitas seksual, padahal tidak sama sekali.
Keindahan hubungan seksual hanya akan didapatkan setelah Tuhan sendiri yang memberikannya sebagai hadiah melalui pernikahan.
Jika belum dihadiahkan Tuhan, jangan harap kita akan menemukan kebahagiaan di dalam aktivitas sexual itu. Malah kebanyakan adalah bencana dan keterikatan (adiksi).
Jadi marilah kita hadir sebagai pejabat publik yang dekat dengan orang lain, sebagai orangtua, remaja dan anak yang mulai membuka diri dengan persekutuan terhadap sesama.
Serta memiliki keterbukaan untuk secara bersama-sama melakukan aktivitas yang positif dan di dalam relasi yang sopan dan saling menghormati. Keadaan yang intim ini akan sangat menyehatkan. Dan akan sangat melindungi kita dari kejatuhan terhadap dosa seksual. Sesuatu yang sangat menyenangkan hati Pencipta. Sekian.
====
Penulis adalah penikmat kajian filosofis, theologis, politik dan sejarah. Master political science dari FISIP USU.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

