| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

TAK terasa bulan Muharram tahun ini kembali menyapa penduduk negeri bumi. Keberadaan Muharram sebagai awal tahun baru Islam dalam sejarah di kenal sebagai awal hijrahnya baginda nabi. Hijrah secara bahasa artinya meninggalkan dan pindah, baik fisik maupun mental-spiritual. Berpindah menunjukkan adanya dinamika dan transformasi.
Kondisi seperti ini juga terjadi di kalangan manusia dan perlunya hijrah karena perbaikan kualitas hidup menuntut adanya transformasi fisik dan mental- spiritual. Oleh karena itu, di antara ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW pada awal kenabiannya adalah perintah hijrah. "Dan hendaklah engkau hijrah (tinggalkan) dosa besar" (QS. Al-Mudatstsir [74]: 5).
Catatan sejarah menyebutkan bahwa hijrah bukan hanya merupakan strategi dakwah Islam, tapi juga merupakan pengembangan kecerdasan spiritual dan pendidikan nilai.
Sungguh luar biasa kesabaran jiwa Nabi SAW dan para sahabatnya dalam menghadapi berbagai intimidasi, cercaan, makian, boikot, bahkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya dari kaum kafir Quraisy.
BACA JUGA: Inovatif Gus Men Cetak Sejarah Penyelenggaraan Ibadah Haji
Hijrah, yang secara harfiah berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dan ketakwaan dalam menjalankan syariat agama.
Pada sisi lain kita dapati pemaknaan hijrah dalam konteks fenomena hijrah yang berkembang saat ini yaitu penekanan makna hijrah pada aspek eksistensialnya, bukan pada aspek substansialnya. Kita sering mendengar kata “hijrah”.
Dalam pengertianya secara etimologi (bahasa) mempunyai pengertian meninggalkan dan pindah, baik fisik maupun mental-spiritual. Namun dalam terminolginya dapat dikatakan bahwa “hijrah”itu merupakan suatu usaha yang bersifat adanya perubahan yang menunjukkan adanya dinamika dan transformasi.
Manusia perlu hijrah karena perbaikan kualitas hidup menuntut adanya transformasi fisik dan mental- spiritual. Oleh karena itu, di antara ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW pada awal kenabiannya adalah perintah hijrah: “Dan hendaklah engkau hijrah (tinggalkan) dosa besar” (QS. Al-Mudatstsir [74]: 5).
BACA JUGA: Formalitas Beragama di Kalangan Generasi Muda
Salah satu hijrah yang paling esensial adalah hijrah pemikiran atau hijrah paradigma. Faktor utama dalam merealisasikan hijrah ini sangat ditentunkan niatnya yang menjadi pondasi awal seseorang berhijrah
Pentingnya niat dalam berhijrah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist. Imam ath-Thabrani meriwayatkan, dalam al-Mu’jam Al-Kabir, dengan sanad yang bisa dipercaya, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Di antara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke Madinah. Maka laki-laki itu ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais".
Sa’id Ibnu Manshur meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya, dengan sanad sebagaimana syarat Bukhari dan Muslim, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Siapa yang hijrah untuk mendapatkan kepentingan duniawi maka pahala yang didapat sebagaimana yang didapat oleh laki-laki yang hijrah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qais, sehingga ia dijuluki Muhajir Ummu Qais".
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa Allah itu maha adil, maka sangat amatlah rugi jika kita hanya berhijrah tidak untuk Allah dan Rasul dan jangan sampai kita memperbaiki hanya karena orang lain karena jika kita tidak mendapatkan apa yang kita dambakan, maka akan rusaklah hijrah yang kita lakukan maka jangan sampai kita menjadi mantan muhajir dan senantiasa kita perbaiki niat kembali hanya untuk Allah SWT.
BACA JUGA: Ormas Agama, Tambang dan Politik Balas Budi
Sungguh perubahan (hijrah) itu tidak akan terwujud tanpa merubah paradigma atau pemikiran tentang manusia, kehidupan, dan juga alam semesta ini. Hijrah yang diharapkan adalah membentuk pemikiran yang benar tentang hakikat manusia.
Darimana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan, dan mau kemana setelah kehidupan manusia. Manusia berasal dari Allah, diciptakan untuk menyembah, dan akan kembali kepada Allah entah itu ditempatkan di neraka atau pun di surga.
Setelah semua itu terjawab. Manusia tidak akan terombang-ambing karena memiliki tujuan yang jelas yaitu kembali kepada Allah. Manusia mengharapkan ridha Allah agar selamat dikehidupan akhirat.
BACA JUGA: Ubahlah Cara Ceramahmu Ustaz!
Era digital seperti saat ini, perubahan zaman yang begitu pesat dan kompleks membuat hijrah menjadi semakin penting. Teknologi dan globalisasi membawa berbagai tantangan dan dinamika baru yang harus dihadapi umat Islam.
Dalam menghadapi realitas zaman now, hijrah menjadi alat yang sangat relevan untuk memperkuat persaudaraan dan persatuan umat Muslim. Dalam perjalanan hijrah ini, umat Islam perlu menggali kembali nilai-nilai dasar Islam seperti tolong-menolong, keadilan, dan saling menghormati.
Hijrah di zaman now tidak hanya tentang perubahan pribadi, tetapi juga melibatkan upaya bersama dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Umat Islam perlu bersatu dan saling mendukung untuk menghadapi berbagai isu sosial, politik, dan ekonomi yang mempengaruhi stabilitas umat Muslim.
Hijrah memanggil kita untuk memprioritaskan persaudaraan dan persatuan dalam upaya menjaga kebersamaan dan menghadapi tantangan bersama orang yang berhijrah adanya keinginan dan usaha yang konkrit keluar dari situasi buruk, terbelakang menuju perubahan nasib yang dilandasi rasa optimis menjadi lebih baik dan disenangi oleh lingkungan sosialnya.
BACA JUGA: Penyuluh Agama Motivator Pengembangan Majelis Taklim di Era Milenial
Menjerumuskan diri kepada perilaku yang menyimpang dan membawa kemudaratan tentunya akan membawa kepada kerusakan yang tidak ada akhirnya.
Hijrah di kalangan anak muda biasanya dimulai dengan memperbaiki akhlak dan cara berpakaian agar sesuai dengan syariat Islam. Hijrah juga sering kali ditandai dengan style fesyen yang syar’i, mulai dari jilbab panjang menutup dada, baju gamis panjang, kaus kaki, hand stock, dan sebagainya.
Ada pula anak muda yang mengekspresikan hijrah dengan cara memelihara jenggot, memakai peci, dan juga menggunakan baju koko atau yang juga dikenal dengan sebutan baju taqwa.
Selain itu, hijrah juga diekspresikan dengan penggunaan gaya bahasa tertentu, identiknya dengan bahasa negara asal ajaran Islam yang tidak lain adalah bahasa Arab.
BACA JUGA: Pendidikan Islam Membentuk Manusia yang 'Qarib dengan Allah'
Sering kita dengar orang yang dalam keseharian berbicara dengan menggunakan kata ana dan antum untuk menyebut dirinya dan lawan bicara, mengucapkan rasa terima kasih dengan menggunakan kata syukran, menyampaikan maaf dengan menggunakan kata afwan.
Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk ekspresi hijrah oleh komunitas-komunitas hijrah yang bermunculan di Indonesia. Berbagai macam bentuk manifestasi hijrah tersebut tergantung dari selera masing-masing individu.
Tidak ada yang salah dari ekspresi-ekspresi mereka selama tidak mengganggu stabilitas sosial dan mencerminkan sikap dalam berbangsa dan bernegara dengan baik. (Indah Yulia Agustina, 2022)
Berdasarkan paparan di atas, mari kita jadikan tahun baru Islam, 1 Muharram 1446 Hijriyah merupakan momentum muhasabah atau evaluasi terhadap diri sendiri.
Hakikatnya adalah, namun bukan perpindahan tempat, tetapi mental, moralitas, dan religiusitas kita sebagai bangsa. Mengubah sifat buruk menjadi lebih baik, korupsi menjadi antikorupsi, bebas nilai menjadi menjunjung tinggi nilai-nilai agama, miskin menjadi sejahtera, dan seterusnya.
BACA JUGA: Peran MUI Merajut Persatuan Dalam Bingkai Keberagaman
Lantas sudahkah kita melakukan hijrah tersebut? Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
====
Penulis Kakankemenag Pidie dan Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

