| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SAYA terinspirasi dari Pak Pantur Banjarnahor dengan misinya: Marpadot (ulet). Hanya dengan marpadot kita menjemput kemajuan. Itulah prinsip orang Batak. Lawan kata marpadot adalah sitarulang (pemalas). Mereka ini adalah orang yang tak mau bekerja keras. Mereka hanya mengandalkan nasib tanpa perjuangan. Orang Batak pada dasarnya tidak sitarulang. Mereka adalah orang tekun dan gigih. Hasilnya pun menakjubkan.
Dahulu sekali, Tanah Batak, terutama di pegunungan seperti Humbang Hasundutan, bukanlah daerah yang subur. Tanah ini gersang. Hanya ditumbuhi semak dan perdu.
Saya masih ingat persis. Saya kelahiran menjelang tahun 90-an. Kami dididik dengan keteguhan dan kegigihan. Orang Batak menyebutnya: pinaborhat ni nahaccit (diberangkatkan dari kesusahan). Sebelum berangkat sekolah, saya dan adik harus memasak, mencuci piring, dan memberi ternak makan.
BACA JUGA: Humbang Hasundutan dan Bupati-bupati Petarung
Saya bahkan masih kelas 2 SD saat itu. Adik saya 3 tahun di bawah saya. Banyak pekerjaan yang harus kami tuntaskan pada usia yang masih belia.
Setelah pulang sekolah, saya dan adik mencabit rumput. Rumput tidak semudah saat ini. Karena itu terkadang saya iri melihat rumput yang kini melimpah.
Mengapa melimpah? Rupanya, tidak banyak lagi beternak kerbau. Selain mencari rumput, kami juga mencari ubi dan talas untuk pakan ternak.
Kami masih punya pekerjaan lain. Mengambil air cukup jauh dari sawah. Belum ada air PAM seperti saat ini. Air itu untuk keperluan rumah tangga: mandi, minum, membersihkan kandang, dan masih banyak lagi.
Bayangkan, di usia itu, kami sudah menanggung banyak tanggung jawab. Malamnya kami tidak langsung belajar. Kami masih mencacah ubi dan talas. Lalu memasaknya dengan kayu bakar. Baru kemudian belajar ditemani lampu teplok.
Rupanya, tanggung jawab kami ini belum seberapa besar dibandingkan tanggung jawab orang tua kami. Konon, mereka harus mencari kayu jauh ke hutan.
Belanja hanya untuk membeli garam hingga ke Bakara, Kecamatan Baktiraja. Jauh dari Kecamatan Pollung. Intinya, seberapa besar pun tanggung jawab kami belum seimbang dengan tanggung jawab dan tantangan yang harus mereka hadapi.
Kami menanam kopi atau tanaman lainnya hanya mengandalkan kekuatan kompos.
Kompos itu bisa dari kotoran ternak, humus dari hutan, atau semak yang dikumpulkan dan diangkut ke ladang. Kami sering menyebutnya manarui taru-taru hingga manaktak ramba. Itulah sekilas tentang apa yang kami lakukan dan kami kerjakan.
Berbeda jauh dengan komdisi saat ini. Anak-anak tidak lagi punya tanggung jawab yang banyak. Jika norma masa silam digunakan untuk menilai generasi saat ini maka mereka pantas disebut generasi sitarulang.
Tetapi, tidak hanya generasi muda yang menjadi sitarulang. Banyak juga orang tua saat ini yang cenderung menjadi sitarulang. Mereka tak lagi ke sawah. Mereka ngerumpi hingga siang hari.
Sesuatu yang mustahil terjadi di masa 90-an. Kala itu, berangkat sekolah, orang tua juga berangkat ke ladang dan baru akan pulang pada menjelang malam. Malahan pada musim mencangkul sawah, mereka bermalam di sawah untuk memastikan pengairan.
Di musim panen lebih lembur lagi. Mereka memasang lampu untuk panen di sawah. Saat ini pemandangan sudah berubah. Kaum ayah lebih sering di lepau atau pergi memancing. Kaum ibu menggosip dulu sebelum ke sawah.
Dahulu sekali, mustahil ada sawah yang menganggur. Kini, banyak sawah menjadi lahan tidur. Rupanya, beberapa orang tua sudah lebih nyaman menunggu pencairan bantuan pemerintah. Bantuan itu membuat mereka terlena.
Saya jadi berpikir pesimis. Jika saat ini banyak orang Batak menjadi pembesar setelah ditempa banyak tanggung jawab, jangan-jangan ke depan generasi berikutnya akan menjadi hatoban (budak), karena tidak terbiasa lagi dengan ketekunan, kegigihan, atau marpadot?
Kita akan menjadi kuli di tanah kita sendiri. Kita jadi kambing di tanah rantau sekaligus di kampung sendiri. Miris dan cukup menyedihkan. Padahal, kita dahulu sekali berjuang untuk tidak menjadi hatoban.
Oleh karena itu, saya sangat menyambut besar gagasan besar marpadot diperluas dan diperdalam lagi. Marpadot itu tidak hanya ke sawah.
Marpadot itu adalah gigih bekerja di bidang apa pun yang kita tekuni dan produktif. Ah, andai saja ada peraturan pemerintah yang melarang kaum adam seharian di lepau atau memancing.
Andai saja ada lembaga desa yang menasihati supaya kaum ibu kembali ke sawah. Andai saja kita semua seia sekata supaya siswa yang kedapatan bolos dan merokok diberi sanksi sosial.
Dengan begitu, kita akan menjemput kemajuan kembali di masa mendatang. Saya tahu, akan bnyak yang tersinggung membaca tulisan Ini. Tetapi, obat memang lebih banyak yang pahit. Gula justru memberi kita penyakit kendatipun sangat manis.
Demikianlah rumus kehidupan. Terbiasa dengan pekerjaan dan tanggung jawab sulit akan membuat segalanya lebih mudah. Sebaliknya, terbiasa dengan kemudahan akan membuat hidup kita justru semakin sulit. Pilihan ada pada kita: marpadot atau menjadi sitarulang!
====
Penulis Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, Guru SMA Negeri 1 Doloksanggul
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 6.000-7.000 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

