| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DATA Badan Pusat Statistik menunjukkan lulusan pendidikan vokasi mayoritas hanya menunggu 0-2 bulan mendapat panggilan kerja. Lulusan pendidikan vokasi juga mendominasi partisipasi angkatan kerja.
Data Februari 2022, 75,39% lulusan SMK dan 76,28% lulusan perguruan tinggi (PT) vokasi telah bekerja. Meningkat pada Agustus 2024 dengan 81,56% lulusan SMK dan 76,45% lulusan PT Vokasi yang sudah bekerja.
Persentase pengangguran lulusan SMK dan PT vokasi lebih rendah dari lulusan perguruan tinggi umum. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi mampu memberikan kontribusi dalam mempersiapkan lulusan yang siap kerja serta memiliki keahlian dan kompetensi.
Pendidikan vokasi mampu menjadi pilar penting dalam membangun tenaga kerja yang terampil dan siap bersaing di pasar global.
Namun, tantangan terkait citra pendidikan vokasi masih perlu diperbaiki. Pemahaman masyarakat tentang pendidikan vokasi harus lebih diperluas dan diperdalam lagi. Selama ini pendidikan vokasi dipandang sebagai pendidikan berstatus bawah. Pemahaman ini harus diluruskan.
Memperkuat citra pendidikan vokasi pada hakikatnya bermanfaat dan dapat meningkatkannya sebagai pendidikan berkelas. Masyarakat harus mengetahui bahwa pendidikan vokasi memiliki tujuan pokok bagaimana membuat setiap orang dapat mempekerjakan dirinya sendiri (self-employable), memfasilitasi kebutuhan dirinya sendiri, mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara wajar, berkontribusi pada pembangunan ekonomi bangsa, negara, masyarakat dan lingkungan hidupnya (Sudira, 2016).
Berdasarkan tujuan ini jelas bahwa pendidikan vokasi melalui kurikulum dan pola pembelajarannya berupaya untuk menghasilkan insan manusia yang memiliki keahlian serta kapabilitas.
Sejalan dengan itu, John Dewey dalam (Rojewski, 2009) mengatakan bahwa pendidikan vokasi bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa dan siswa agar berkemampuan memecahkan permasalahan yang terjadi yang disebabkan oleh perubahan-perubahan cara-cara berlogika dan bernalar menggunakan pikiran terbuka dalam mencari berbagai alternatif solusi dengan selalu siap sedia melakukan berbagai percobaan/eksperimen.
Dengan demikian pendidikan vokasi juga mempersiapkan mahasiswa dan siswa memiliki pemikiran yang cerdas dan bijaksana.
Semakin menguatkan bahwa pendidikan vokasi memiliki potensi yang sangat besar keberlanjutannya dalam menghadapi situasi global yang terus berubah.
Pendidikan vokasi melakukan penyesuaian dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia sebagai pendidikan untuk dunia kerja yang semakin mandiri dalam memilih dan menjalankan pekerjaan.
Pendidikan vokasi adalah investasi masa depan. Pandangan ini bukan sebatas isapan jempol semata, tetapi bukti nyata yang memang dapat dibuktikan dengan data. Fakta dilapangan juga menggambarkan dan menjadi pembuktian.
Perubahan globalisasi, revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan perubahan sosial dan ekonomi sudah diantisipasi pendidikan vokasi.
Di mana kurikulum yang diberlakukan di pendidikan vokasi dengan praktik 70 persen dan teori 30 persen. Artinya mahasiswa dan siswa lebih banyak berlatih dan langsung terlibat.
Sisanya diperkuat melalui yang sifatnya teoritis. Bahkan kongres kedua pendidikan vokasi di Seoul pada 1999 menetapkan pendidikan vokasi sebagai pendidikan dan pelatihan yang digunakan untuk merealisasikan budaya perdamaian, pembangunan berkelanjutan, kohesi sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Hasil kongres ini menyempurnakan kandungan yang ada dalam diri mahasiswa dan siswa pendidikan vokasi. Selain memiliki keahlian, kemampuan untuk memecahkan masalah, juga memiliki rasa humanis serta sosial yang tinggi.
BACA JUGA: Mempertanyakan Posisi Pendidikan Vokasi di 3 Kementerian
Transformasi Pendidikan Vokasi
Transformasi pendidikan vokasi berorientasi pada kebutuhan industri dan pasar kerja. Keselarasan pendidikan vokasi yang semakin sesuai dengan kebutuhan industri berpengaruh terhadap kondisi kebekerjaan lulusan vokasi.
Selaras dengan pandangan John Dewey dalam (Sudira, 2016) bahwa kurikulum pendidikan vokasi memuat kemampuan akademik yang luas dan kompetensi generik, skill teknis, skill interpersonal, dan karakter kerja.
Kurikulum pendidikan vokasi harus mengintegrasikan pendidikan, karier, dan teknik. Terdapat artikulasi di antara pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi, dekat dengan dunia kerja.
Dewey juga berpandangan bahwa hanya pengalaman yang benar dan nyata yang dapat membuat siswa dan mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan yang dipelajari.
Pandangan ini terimplementasi dengan magang yang diprogramkan oleh pemerintah. Nilai dari pelaksanaan magang sangat baik. Siswa dan mahasiswa jadi memiliki pengalaman langsung berinteraksi di dunia industri.
Selain itu kualitas pengajaran, aksesibilitas, dan pengembangan fasilitas serta infrastruktur juga telah dilakukan oleh pemerintah. Para pengajar sudah terus ditingkatkan kualifikasi serta kemampuannya melalui program-program yang dilakukan oleh pemerintah.
Laboratorium, bengkel, dan peralatan praktik yang sesuai dengan teknologi terbaru juga sudah disediakan di pusat-pusat yang telah ditetapkan.
Program-program yang memungkinkan agar seluruh rakyat dapat mengenyam pendidikan juga secara berkelanjutan dilakukan oleh pemerintah. Tujuannya agar seluruh rakyat Indonesia dimana pun berada dapat belajar dan menjalani pendidikan.
Semakin memperlihatkan bahwa citra pendidikan vokasi sesungguhnya berada di level yang sangat baik. Sejatinya tidak ada keraguan dimasyarakat terhadap pendidikan vokasi.
Mengubah Pandangan Publik
Posisi pendidikan vokasi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan tidak perlu lagi diragukan. Selaras dengan Program Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Tidak ada negara maju tanpa SDM yang berkualitas. Pendidikan vokasi menjadi salah satu pilar untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Ciri-ciri SDM yang baik dan berkualitas yakni memiliki kompetensi baik yang bersifat generik maupun yang bersifat spesifik, memiliki skill teknis, memiliki semangat kewirausahaan, dan memiliki etika kerja.
Kesemuanya ini dapat diperoleh melalui pendidikan vokasi. Swiss merupakan negara yang sukses melalui pendidikan vokasi. Jerman dan Australia juga sukses melalui sistem pendidikan vokasi.
Saatnya masyarakat mengubah pandangan dan pola pikirnya tentang pendidikan vokasi. Kemajuan dan keberhasilan negara dalam membangun kekuatan ekonomi, teknologi, dan sains ditentukan oleh tingkat kemampuan SDM negara tersebut.
Sistem pendidikan vokasi efektif untuk mewujudkan SDM yang memiliki kemampuan dan kualifikasi. Indonesia merupakan negara yang besar. Kaya akan potensi sumber daya alam. Potensi tersebut akan tepat guna ketika dikelola oleh SDM yang tepat.
Pendidikan vokasi akan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi bangsa, negara, masyarakat. Jadi tidak perlu lagi diragukan.
====
Penulis Direktur Politeknik Unggul LP3M Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

