| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PENERIMAAN mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) selalu menjadi momen penuh harap sekaligus penuh luka. Dari tahun ke tahun, tidak hanya cerita kegembiraan dan prestasi yang kita dengar, tetapi juga kisah kecurangan yang semakin canggih.
Tahun 2025 ini, hanya dalam dua hari pelaksanaan UTBK SNBT, panitia sudah menemukan sedikitnya 14 dugaan kasus kecurangan. Perlu ditegaskan ”ini hanya yang terdeteksi”.
Jika dulu perjokian dilakukan dengan bertukar wajah atau menyelundupkan kunci jawaban di lipatan kertas, kini teknologi dirombak menjadi senjata.
Kamera mikro diselipkan di behel gigi, pengerjaan soal dari jarak jauh, alat komunikasi supermini yang tak kasat mata. Yang berlomba bukan lagi kecerdasan intelektual, melainkan kecanggihan tipu daya.
Kita harus mengatakan ini sejelas-jelasnya. Ini bukan sekadar pelanggaran aturan ujian. Ini adalah pengkhianatan terhadap nilai pendidikan. Ini adalah deklarasi bahwa sebagian anak bangsa tidak percaya lagi pada kerja keras, kejujuran, dan meritokrasi.
Mereka lebih memilih jalan pintas. Jalan yang mengajarkan bahwa kesuksesan bisa dibeli, dimanipulasi, dan dikorupsi.
Fenomena ini seketika mengingatkan kita pada film Thailand Bad Genius (2017), sebuah karya sinematik yang brilian sekaligus mengerikan.
Dalam film itu, seorang siswi jenius membantu teman-temannya menyontek dalam ujian masuk universitas internasional, menggunakan kode piano, pengaturan waktu, dan akhirnya sistem kecurangan global berbasis teknologi. Yang ditampilkan bukan hanya kecanggihan rencana, tetapi juga rusaknya moralitas anak-anak muda yang tertekan oleh sistem pendidikan yang kompetitif, mahal, dan tidak adil.
Apa yang kita lihat dalam UTBK tahun ini tak ubahnya naskah Bad Genius yang dipentaskan di dunia nyata. Bedanya, ini bukan hiburan. Ini kenyataan pahit bahwa sistem pendidikan kita gagal membangun nilai integritas, kejujuran, dan sportivitas.
Film Bad Genius memberikan satu pesan keras, bahwa ketika sistem terlalu menekan, ketika nilai kelulusan dianggap lebih penting daripada nilai kejujuran, maka akan selalu lahir generasi yang lebih lihai mencurangi ketimbang memperjuangkan.
Sistem yang Membunuh Moral
Ada yang lebih dalam dari sekadar persoalan "orang-orang jahat" yang ingin menipu. Masalah ini tumbuh dari sistem yang secara struktural cacat.
Pendidikan di Indonesia, dari tingkat dasar hingga menengah, sering kali mengajarkan bahwa nilai adalah segalanya. Siswa yang mendapat nilai rendah dipermalukan, sekolah yang muridnya sedikit masuk PTN ternama dianggap gagal.
Tolok ukur kualitas masih diukur dari angka-angka kaku tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran yang seharusnya membentuk karakter.
Sekolah-sekolah mengejar statistik keberhasilan masuk PTN. Orang tua mendorong anak-anaknya tidak hanya untuk berprestasi, tetapi juga untuk 'harus' diterima di PTN, apapun caranya.
Sebagian siswa, di bawah tekanan semacam ini, menganggap menipu sebagai satu-satunya pilihan rasional. Kita menciptakan generasi yang berpikir 'yang penting hasilnya, cara tidak penting. Inilah penyakit pendidikan kita hari ini.
Tak hanya Bad Genius, film Amerika The Perfect Score (2004) juga mengangkat tema serupa. Sekelompok siswa SMA merasa masa depan mereka terancam karena nilai SAT (tes masuk perguruan tinggi di AS) tidak sesuai harapan. Mereka lalu bersekongkol membobol kantor pusat SAT untuk mencuri jawaban.
Motif mereka beragam. Ada yang ingin masuk sekolah arsitektur impian, ada yang ingin bebas dari ekspektasi keluarga, ada yang hanya ingin "membuktikan diri".
Tapi akar semua itu sama, sistem pendidikan yang membuat satu angka kecil di kertas menentukan seluruh masa depan seseorang.
Apa bedanya dengan kondisi kita hari ini? Jumlah kursi PTN hanya 259.564, untuk 860.976 peserta. Rasio ini membuat persaingan brutal, kadang-kadang tidak masuk akal.
Tekanan psikologis yang dihadapi anak-anak muda itu luar biasa besar. Dan dalam tekanan semacam itu, banyak yang tergoda untuk mengambil jalan kotor.
Dalam The Perfect Score, rencana pencurian mereka akhirnya gagal, dan karakter utama menyadari, bukan skor yang harus mereka curi, tapi keberanian untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.
Sebuah refleksi yang hari ini terasa makin relevan. Kita membutuhkan generasi yang berani jujur, bukan hanya berani curang.
Sejalan dengan itu, film Korea Selatan Cheat (2022) menggambarkan bagaimana praktik mencontek, memanipulasi, dan berbuat curang telah menjadi semacam "budaya gelap" di kalangan pelajar.
Dalam film itu, tekanan untuk sukses akademik sangat besar, membuat siswa dan bahkan guru bersedia menutup mata terhadap praktik kecurangan asal statistik sekolah tetap tinggi.
Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Jawabannya ya. Ada sebagian sekolah yang, alih-alih membina kejujuran, justru secara diam-diam membiarkan, bahkan memfasilitasi, bentuk-bentuk kecurangan di berbagai level.
Demi mempertahankan "nama baik sekolah", demi mengejar target jumlah siswa yang masuk PTN favorit, demi menjaga citra.
Ketika kecurangan menjadi norma tersembunyi, kita kehilangan arah. Pendidikan yang seharusnya membentuk manusia berkarakter justru berubah menjadi pabrik pencetak kelulusan palsu.
BACA JUGA: Benang Kusut Masalah Pendidikan Sumatera Utara
Negara Harus Hadir
Dalam keadaan seperti ini, negara tidak boleh hanya menjadi wasit yang meniup peluit ketika ada pelanggaran. Negara harus masuk ke akar persoalan.
Pertama. Memberikan subsidi yang adil ke perguruan tinggi swasta, supaya mahasiswa tidak hanya berlomba memperebutkan kursi PTN.
Kedua. Membangun sistem penerimaan mahasiswa baru yang lebih beragam dan humanis, tidak hanya berbasis ujian sekali pakai. Ketiga. Memberikan penghargaan kepada integritas, bukan sekadar kepada nilai akademis.
Jika negara terus membiarkan jurang antara PTN dan PTS (perguruan tinggi swasta) begitu lebar, maka kecurangan akan tetap menjadi "opsi rasional" bagi mereka yang merasa masa depan tergantung pada satu kursi di PTN.
Negara juga harus memperbaiki budaya pendidikan kita sejak dini. Mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bahwa kejujuran lebih berharga daripada hasil. Bahwa jalan pintas hanya akan membawa kita ke jurang kehancuran karakter.
Kita tidak butuh lebih banyak "jenius curang". Kita butuh lebih banyak generasi yang berani jujur di tengah tekanan. Yang paham bahwa keberhasilan sejati tidak dibangun dalam ruang ujian semata, tetapi dalam ketekunan, kerja keras, dan integritas.
Bayangkan jika setiap siswa yang hari ini berniat curang memilih untuk bertahan jujur. Bayangkan kekuatan moral kolektif yang bisa kita bangun.
Bayangkan masa depan bangsa yang tidak hanya dipenuhi orang pintar, tetapi juga orang benar. Pendidikan harus mengembalikan tugas sucinya, membentuk manusia, bukan sekadar mencetak angka.
Kursi PTN hari ini mungkin berlumur kecurangan, tetapi belum semuanya hancur. Masih ada banyak anak muda jujur yang bertarung dengan keringat dan air mata.
Mereka adalah harapan kita. Kita harus mendukung mereka dengan sistem yang adil, dengan pendidikan yang bermoral, dengan negara yang hadir sepenuhnya.
Jika tidak, maka kisah Bad Genius, The Perfect Score, dan Cheat akan terus berulang. Bukan di layar lebar, tapi di dunia nyata, di ruang-ruang ujian, di sidang-sidang pengumuman kelulusan, di masa depan bangsa kita sendiri.
Dan saat itu terjadi, kita semua, sebagai bangsa, harus bertanya, Apakah kita sudah mendidik anak-anak kita untuk menjadi manusia, atau hanya menjadi mesin pencari kursi?.
====
Penulis Dosen Politeknik Unggul LP3M/Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri Padang
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 6.000-7.000 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

