| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

POLITIK Humbang Hasundutan (Humbahas) cenderung unik di kawasan Danau Toba. Pernah dua pasangan calon diusung partai yang sama di era keterpilihan pertama sekali Pak Dosmar Banjarnahor. Pernah pula kandidat harus melawan kotak kosong dan incumbent nyaris kalah. Maka, di lepau-lepau, sering kali didengungkan bahwa hawa politik Humbahas diibaratkan seperti politik nasional dengan skop kabupaten.
Pada Pilkada terakhir, pemetaan pasangan calon Bupati Humbahas sempat tidak terdeteksi. Setidaknya, pasangan pemenang Pilkada nyaris tidak mempunyai perahu tumpangan.
Betapa tidak? Pasangan Oloan-Rebecca (Oloan Paniaran Nababan-Rebeka Marbun) hampir tak punya kendaraan politik. Keajaiban baru terjadi ketika MK membuat keputusan terbaru, sehingga PDI Perjuangan dan Perindo mempunyai tiket untuk mendaftarkan Paslon di Humbang.
Politik memang hanyalah trik. Ibarat pertunjukan, para pemainnya adalah aktor. Tidak boleh bawa perasaan dalam politik. Maka, saya percaya, syarat utama politikus adalah dewasa.
Betapa tidak? Dahulu kawan, kelak bisa jadi lawan. Kita sudah melihat itu dengan telanjang hari-hari ini. Siapa, misalnya, menyangka Anies Baswedan bisa berdamai, bahkan mungkin bekerja sama setelah sebelumnya menjadi perkelahian nasional?
Disebut perkelahian nasional karena ada demo berjilid-jilid di seluruh negeri untuk menuntut Ahok. Begitu dipenjarakan, gerakan sejuta lilin untuk Ahok juga menyala di seluruh negeri.
Kita hampir bisa mengatakan bahwa kalau Ahoker, sudah pasti bukan anak Abah. Kini? Keduanya sudah merancang ide untuk berkolaborasi. Para pendukung di kedua pihak mungkin harus kecewa dan tersinggung. Tetapi, itulah politik. Tak ada yang abadi.
Apakah kita harus percaya pada politisi? Terserah pada kita masing-masing. Namun, kita bisa mengambil referensi. Katakan, misalnya, dari Nikita Sergeyevich Khrushchev.
Ia pemimpin negara adidaya: Uni Soviet. "Semua politisi sama saja. Mereka menjanjikan untuk membangun jembatan meskipun di tempat itu tidak ada sungai," katanya.
Sebuah pengakuan yang sebenarnya tidak mengejutkan. Kita sudah mengalami betapa janji dalam politik bukanlah utang.
Adalah buang-buang waktu jika kita menagih janji-janji politik. Cukuplah pahami bahwa dalam politik, janji-janji itu hanyalah kata-kata untuk diteriakkan, bukan amanah untuk dikerjakan.
Bukankah William Shakespeare pernah berucap bahwa dia (politisi) menulis ungkapan berani, bicara dengan kata-kata berani, bersumpah dengan sumpah berani, dan (harus juga) melanggarnya dengan berani? Janji itu hanya tuntutan politik. Mereka bisa seolah korban, bisa patriotik. Dan, itulah intrik.
Seperti yang dikatakan William Randolph (penguasa lahan Virginia abad ke-17), bahwa politikus adalah orang-orang yang akan melakukan apa pun untuk mempertahankan posisinya, termasuk melakukan hal-hal yang patriotik.
Tapi, lagi-lagi, politik hanyalah bagian dari fragmen. Ceritanya adalah kebisingan, kadang kesunyian, lalu bising lagi. Skema yang disukainya biasanya adalah kericuhan. Semakin ricuh, semakin memikat. Mereka akan memancing di air keruh.
Para pemancingnya adalah aktor-aktor hebat. Bisa berlakon antagonis, protagonis, bahkan mengatur lakon itu sendiri sekehendaknya. Maksud saya, rakyat seharusnya sudah mulai dewasa. Dan, harus dewasa.
Kedewasaan diukur dari cara kita untuk tidak baper. Namun, satu yang pasti, dalam sabda politik, suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei). Artinya, semua kita harus mendukung pemerintah terpilih. Itulah bentuk kedewasaan. Mendukung bukan berarti mengangguk.
Mendukung tidak selalu harus setuju. Mendukung juga bisa dengan memberikan pikiran lain sebagai alternatif. Namun, jangan kiranya ada nyinyir dalam politik.
Jika politisi belum dewasa, rakyatlah yang harus dewasa. Sebab, sadar atau tidak, sistemlah yang membuat politisi mesti berkelit. Sederhana saja, coba tanya pada diri kita masing-masing: apakah kita memilih kandidat karena idenya atau karena uangnya? Jika karena uangnya, kita seharusnya malu untuk menuntut politisi secara berlebihan.
Saya jadi sampai pada kesimpulan ini: bahwa politisi yang sejati adalah rakyat itu sendiri. Kita menolak korupsi, tapi kita melakukannya dengan kecil-kecilan melalui TTR (togu-togu ro).
Maka, kata Charles de Gaulle (1890-1970), "Saya sampai pada kesimpulan bahwa politik terlalu serius untuk diserahkan kepada politisi karena rakyat adalah politisi itu sendiri. Lucunya adalah jika kita menuntut berlebihan, sementara kita memilih atas dasar uang. Tapi, ya, itulah uang.
Uang memang bukan segalanya. Tapi mari dewasa dan jujur lagi: apakah kita memilih jika tak ada uang? Nah, melihat kenyataan itu, saya membaca bahwa peta Humbang Hasundutan tidak akan jauh berubah. Kecuali keajaiban pernah terjadi.
Untunglah, keajaiban terjadi pada keterpilihan Oloan-Rebeca. Mereka nyaris tidak bisa maju sebelum ada keputusan MK. Saya dengar pengakuan itu ketika mengantar anak-anak sanggar saya Sanggar Maduma di Sopo Marpadot, binaan Pantur Banjarnahor.
Dan, warga Humbang menyadari posisi Pak Oloan selama ini. Ia punya tongkat, tapi tak punya wewenang dan kekuasaan. Biasanya begitu, orang yang tetap bangkit meski dibenam akan muncul menjadi patriot. Tak masalah ia mati seribu kali, asal bangkit seribu satu kali.
Para patriot tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia bukan keledai: jatuh ke lubang yang sama. Mungkin ia menderita, tapi yang pasti tak membuat orang lain menderita.
Ia tetap bersahaja menjumpai rakyat meski ia tahu: beberapa rakyat juga harus dibeli dengan uang. Rakyat adalah pengkhianat itu sendiri.
Apakah Oloan akan menjadi politisi patriot? Waktu akan menjadi instrumen terbaik untuk mengujinya, begitu Adian Napitupulu, politisi idealis dari PDI Perjuangan, berkata: Dulu, Pak Oloan punya tongkat tapi tak punya kuasa. Kini, ia sudah punya kuasa.
Lalu, kata Abraham Lincoln, "Kalau kau ingin tahu karakter seseorang, beri dia kekuasaan." Sebentar lagi, kekuasaan itu sudah di tangan Pak Oloan, semoga Humbang Hasundutan semakin baik dan bersahaja. Apalagi, mereka terpilih karena keajaiban demi keajaiban. Akankah keajaiban tercipta di Tanah Dingin Humbang Hasundutan?
====
Riduan Situmorang, Sastrawan, Pembina Sanggar Maduma, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, Pegiat Literasi
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

