| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEWAKTU sekolah yang saya kenang adalah ketika ikut berlomba ke kecamatan. Meski tak juara, tapi sangat membekas di hati saya. Apalagi jika masuk ke tingkat kabupaten, rasanya lebih berkesan lagi. Saya ingat ketika diutus tingkat kabupaten untuk lomba cerdas cermat. Saya kalah. Tetapi, saya bahagia.
Saya ingat bagaimana orang tua memberangkatkan saya. Saya seolah sedang bertarung di tingkat nasional. Orang tua sampai menyediakan ikan mas untuk borhat-borhat. Kenangan itu membuat saya semangat untuk belajar dan belajar lebih giat lagi. Saya merindukan kompetisi.
Saya kira, hal yang sama juga menjadi impian setiap siswa. Mereka butuh ruang dan panggung untuk menunjukkan eksistensi mereka. Ruang dan panggung itu menjadi motivasi yang hidup. Kita tak perlu mengutip studi para ahli. Intinya, motivasi menjadi napas untuk membuat pembelajaran bermakna.
Motivasi itulah yang membuat saya konsisten menulis dan membimbing siswa dalam literasi lebih dari dua dekade. Saya ingat betul ketika sewaktu mahasiswa terpilih menjadi juara 2 menulis puisi tingkat nasional. Diundang ke Jakarta dan menjadi kenangan yang indah untuk dikisahkan.
BACA JUGA: Napas Baru Pendidikan Sumatera Utara di Tangan Alexander Sinulingga
Motivasi itulah yang membedakan saya dengan teman-teman yang saya bimbing. Mereka berhasil menulis ide ke kolom media-media lokal.
Tetapi, mereka langsung puas. Selesai dan langsung berhenti. Itu juga yang membedakan saya dengan beberapa siswa. Saya bangga beberapa dari mereka menulis ke media.
Tetapi, tanpa motivasi, mereka berhenti begitu saja. Tidak ada konsistensi. Padahal, konsistensi itulah jalan menuju keberhasilan dan kepuasan. Ibaratnya, belajar tanpa motivasi akan berdampak pada nihilnya konsistensi. Padahal, keunggulan hanya akan tercapai dengan konsistensi.
Filsuf Will Durant merumuskannya begini: we are what we repeatedly do.Excellence, then, is not an act, but a habit. Intinya keunggulan itu adalah buah dari pembiasaan berkelanjutan. Dalam pada itu, saya sangat merindukan kompetisi siswa yang dilaksanakan secara berjenjang.
Lebih dari itu, supaya euforianya dapat, sebaiknya setiap kompetisi itu dilaksanakan secara luring. Jangan seperti saat ini, di mana semua kompetisi resmi siswa murni daring. Kompetisi itu, misalnya, FLS3N dan olimpiade lainnya. Padahal, kompetisi ini sangat bergengsi di mata siswa. Namun, ketika daring, animo menurun.
Semakin menurun karena di level daerah, banyak juga kompetisi tersebut yang dilakukan secara daring. Daring antar kecamatan, daring antar kabupaten, daring antar provinsi, daring pula secara nasional. Euforianya jadi kurang berkesan. Animo siswa pun menurun drastis.
Daring memang tidak akan mengurangi esensi dan substansi. Daripada tidak diperlombakan, sebaiknya dilakukan secara daring. Namun, ada nilai tambah di luar esensi dan substansi. Nilai tambah itu adalah berupa motivasi dan kenangan yang menjadi immomeriable bagi mereka.
Tahun ini, semua kompetisi siswa dilaksanakan secara daring. Namun, di tangan pemerintah daerah yang kreatif, keterbatasan dana sebenarnya bisa dituntaskan dengan kolaborasi.
Percayalah, siswa tidak hanya membutuhkan hadiah. Siswa butuh kenangan nyata itu untuk menjadi motivasi yang hidup bagi mereka.
Semoga kompetisi tingkat kabupaten, terutama tingkat provinsi masih bisa diupayakan untuk luring. Demi masa depan dan animo anak bangsa. Perlombaan bukan soal menang dan kalah.
Perlombaan bukan pula soal hadiah. Hadiah nomor kesekian bagi siswa. Bagi siswa yang penting adalah motivasi dan kenangan.
====
Penulis Guru bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Doloksanggul, Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

