| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DIRENCANAKAN tahun ajaran baru, SMA/SMK se-Sumatra Utara akan masuk 5 hari. Kebijakan ini termasuk baru dan segar untuk wilayah Sumatra Utara. Sebagai sebuah kebijakan, tentu tidak semua sepakat. Pasti ada yang keberatan. Mereka akan bersuara. Pasti juga ada yang setuju. Mereka menunggu.
Ada yang protes. Sekolah 5 hari akan melelahkan. Ada juga yang mengatakan bahwa siswa bukan PNS. Ada lagi yang lebih kritis: sudah adakah naskah akademiknya?
Protes adalah bagian dari dialektika. Artinya, protes itu bukti bahwa kita ikut berpikir untuk lebih efesien dan efektif. Jadi, silakan memberikan protes.
Tetapi, tujuan dari protes tidak semata untuk menolak. Tujuan dari protes adalah mencari resep terbaru supaya kekhawatiran tidak terjadi, supaya impian terwujud.
Kita sudah tahu, kebijakan nasional saat ini adalah menerapkan Makan Bergizi Gratis. Siswa makan di sekolah. Istirahat sebentar. Lalu, belajar lagi.
Artinya, jam belajar siswa sudah sampai sore. Lalu, mengapa tidak diefektifkan saja menjadi 5 hari? Belajar. Lalu, makan. Istirahat sebentar.
Lanjut lagi belajar. Jam belajar dipadatkan. Hari belajar pada Sabtu didistribusikan pada 5 hari lain secara merata. Siswa jadi punya waktu untuk istirahat di akhir pekan.
Mereka bisa bersama orang tua. Mereka bisa melakukan apa yang sering disebut dengan quality time. Piknik bersama keluarga. Ekonomi lokal pun terbangun.
Emosional dan kedekatan keluarga semakin intim. Itulah harapannya. Namun, harapan terkadang tidak menjadi kenyataan. Selalu ada badai yang menyulitkan.
Katakan, misalnya, siswa jadi keluyuran di hari Sabtu. Mereka bisa ikut-ikutan geng motor. Masih banyak dampak lain. Namun, apakah ini tidak bisa diatasi orang tua?
Kesannya, hari Sabtu dibuat belajar supaya tidak keluyuran. Bagaimana kalau kita ubah: hari Sabtu tak belajar supaya anak fokus pada keluarga?
Atau, supaya anak fokus mengembangkan bakat non-akademik. Mereka bisa latihan drama. Mempertajam kemampuan olahraga. Menari di sanggar. Belajar musik di tempat les. Membantu orang tua. Dan masih banyak lagi. Artinya, keluyuran itu adalah kekhawatiran. Namun, kekhawatiran ini juga bukan tanpa solusi.
Percayalah, belajar 5 hari justru lebih efektif. Kebijakan ini sinkron dengan program Makan Bergizi Gratis. Mengapa Makan Bergizi Gratis?
Karena fakta saat ini, kita sering melalaikan tanggung jawab makan untuk anak. Akibatnya, mereka menjadi orang yang lemah. Hanya baris saat upacara saja, ada yang pingsan.
Tentu, ini menjadi bukti bahwa fisik anak didik semakin lemah. Ini bukan sinyal yang baik untuk menatap masa depan Indonesia Emas. Maka, dicanangkanlah Makan Bergizi Gratis.
Seiring dengan itu, karena MBG dialokasikan 5 hari, tentu sangat bijaksana mendistribusikan jam pada hari Sabtu ke hari lainnya.
Memang, ada dampak lain yang mungkin belum terpikirkan bagi warga perdesaan. Namun, akan sangat terasa di perkotaan. Saat ini, anak di perkotaan tak lagi belajar hanya di sekolah. Pagi ke sekolah. Sore ke bimbingan belajar. Jikalau skema 5 hari dilakukan, polanya mungkin akan berubah lagi.
Pagi sekolah. Menjelang malam baru selesai karena harus bimbingan belajar. Siswa mungkin akan sangat kelelahan. Namun, hal itu bisa disiasati jika siswa disiplin.
Artinya, mereka menggunakan waktu dengan baik. Jam istirahat digunakan untuk istirahat. Jam belajar untuk belajar. Begitu seterusnya.
BACA JUGA: Kompetisi Luring untuk Siswa
Maka, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dicanangkan oleh Kemendikdasmen sudah harus dihidupi. Saya justru melihat kebijakan sekolah 5 hari ini sangat baik. Kebijakan ini akan membuat anak-anak bahagia dan menghargai waktu. Mereka akan menjadi anak yang produktif dan kreatif.
Setidaknya, mereka jadi intim dengan keluarga serta bisa mengembangkan bakat non akademiknya. Apalagi jika sekolah 5 hari ini diselipkan dengan kebijakan literasi.
Katakan, misalnya, praktisi seni dan budaya datang ke sekolah memberikan ceramah segar. Pendidikan akan lebih berwarna bukan?
Lalu, bagaimana dengan naskah akademiknya? Mungkin, kita perlu menyusunnya. Namun, secara global, sudah banyak kok negara yang menerapkan hal serupa.
Malah, di Finlandia, jam belajar itu sangat minimal. Mungkin kita bisa mencontoh negara itu supaya belajar menjadi kebahagiaan, bukan siksaan!
Maksud saya, naskah akademik itu memang harus dibuat supaya kita menghargai intelektualisme. Saat ini, kita kurang menghargai intelektual.
Dulu, intelektual bisa hidup dengan pikiran dan karya. Saya jadi ingat betapa mewahnya hidup di masa kuliah: bisa survive dengan menulis di berbagai media. Saat ini sudah terbalik.
Andai ada pemerintah yang bisa menyediakan ruang intelektual independen untuk menampung pikiran dan karya, pasti itu akan sangat berdampak pada motivasi setiap orang yang menghikmati dunia intelektual. Semoga saja ada ruang itu supaya beranda media sosial kita tidak disesaki hoaks dan pembodohan yang menyesatkan.
====
Penulis esais, guru bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Doloksanggul, Pembina Sanggar Maduma, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

