| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KATANYA begitu. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto sendiri yang mengatakan hal itu. Bahwa mereka adalah bupati petarung. Mereka itu adalah Oloan Paniaran Nababan (Humbang Hasundutan), JTP Hutabarat (Tapanuli Utara), Effendi Napitupulu (Toba).
Effendi Napitupulu adalah kader Golkar. Ia bahkan menjadi Ketua Golkar Toba selama 2 periode. Tetapi, politik adalah politik.
Maka, kendati ketua, bukan menjadi jaminan untuk diusung. Golkar malah mendukung petahana yang berpasangan dengan keponakan LBP.
Bagi petarung, tak ada pintu yang benar-benar tertutup. Satu pintu tertutup, cari pintu lain. Bila perlu: masih ada jendela. Petarung boleh mati asal selalu bangkit kembali.
Itulah yang dilakukan Effendi Napitupulu. Meski didukung 1 partai, ia terbukti menang. Dan, Toba pun selalu mengalahkan petahana.
Pun dengan JTP Hutabarat. Ia petarung juga. Banyak orang yang tak mau bertarung dua kali. JTP Hutabarat bertarung dua kali. Melawan Nikson. Kalah. Melawan istrinya, Satika Simamora. Menang.
Bukan hal yang mudah maju bertarung dua kali. Tetapi, petarung adalah petarung. Maka, JTP Hutabarat maju lagi. Petahana ia tantang dan akhirnya menang. Padahal, di DPRD Provinsi Sumatra Utara, JTP (39.792) takluk dari Satika (54.629). Tetapi, petarung harus bertarung.
Begitu juga dengan Oloan Paniaran Nababan. Selama 5 tahun ia menjabat, tetapi tak punya wewenang. Bupati pasangannya selalu menyempitkan ruang geraknya.
BACA JUGA: Oloan Paniaran Nababan dan Keajaiban-Keajaiban Itu
Ada kemudian seloro di lepau-lepau: sehari pun Oloan Paniaran Nababan tak bisa jadi Plt Bupati Humbang Hasundutan. Maka, Dosmar Banjarnahor tak mencoba peruntungan masuk ke DPR RI meski ia punya peluang untuk itu. Akibatnya, Oloan tetap menjadi wakil.
Pintu sudah tertutup. Kursi PDIP tak mencukupi dengan kursi Perindo. Terjadi memang penurunan suara yang tajam di PDIP. Segalanya sudah dilakukan. Tetapi, aturan tak mendukung (minimal 20 persen). PDI P dan Perindo hanya menduduki 5 kursi (16 persen).
Namun, selalu ada yang bernama keajaiban. Di injury time, MK mengabulkan permohonan partai kecil non-parlemen: Partai Buruh dan Partai Gelora. Keputusan MK membuat pintu kembali terbuka.
Perjuangan mendapatkan perahu tumpangan hanyalah perjuangan pertama. Perjuangan sesungguhnya ada pada pertarungan di lapangan. Dan, Oloan memenangkan lapangan.
Ia menang karena dua hal: keajaiban awalnya (keputusan MK), pertarungan akhirnya (pilkada). Atas dasar hal itu, ketiga bupati terpilih di kabupaten bertetangga ini dijuluki sebagai bupati petarung. Namun, pertarungan sesungguhnya adalah bukan bagaimana mendapatkan kekuasaan.
Pertarungan sesungguhnya adalah bagaimana memenangkan hati rakyat. Hal yang sulit bagi Oloan Paniaran Nababan. Apalagi, kini terjadi efisiensi anggaran. Rakyat banyak yang tak tahu efisiensi anggaran. Mereka pasti masih menilai sama anggaran tahun ini dan anggaran tahun lalu.
Dan, itulah tantangannya. Tantangan berikutnya adalah menjalin kolaborasi dan kekompakan dengan siapa pun. Itu perlu juga menjadi teladan.
Selama ini, banyak pasangan yang bercerai setelah dilantik. Itu bukan dosa. Itu politis. Sesama saudara saja bercerai. Akan tetapi, cukup terpuji juga jika pasangan calon yang terpilih bisa kompak sampai akhir.
Itu akan menjadi teladan bagi rakyatnya. Rakyat akan menyimpannya pada posisi yang tak akan hilang. Namanya kenangan. Kenangan lebih abadi dari apa pun.
Maka, orang masih rindu pada Maddin Sihombing. Ia begitu dikenang. Bahkan setelah lebih 10 tahun. Ia jadi emeritus.
Begitulah kenangan bekerja. Ia abadi karena sudah membekas di hati. Saya merindukan bupati yang merangkul termasuk lawan politik.
Itu adalah seni sekaligus etika paling puncak. Maka, ketika Parulian Simamora mengucapkan akan mendukung pemerintah terpilih, itu adalah napas optimisme. S
aya tahu Parulian Simamora. Ia juga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda ketika pernah memberikan wejangan pada siswa-siswa SMA Negeri 1 Doloksanggul: dunia ini sangat luas bagi orang yang gigih dan tekun.
Saya juga mengenangnya sebagai orang yang sudah mapan di lapangan, bukan hanya di teori. Pernah seorang guru kami melakukan "kecelakaan" yang tidak disengaja. Rambut anaknya kurang rapi. Dipangkas guru, si anak mengelak lalu telinganya tergunting hingga berdarah.
Tetapi, Parulian Simamora malah melindungi guru itu: hanya karena rasa sayang guru, maka hal itu dilakukan. Di situ saya mengerti, ia sudah sangat dewasa. Ia tak menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk menekan si guru.
Dari sana saya kemudian belajar. Bahwa pelajaran paling penting tidak selamanya dari buku. Pelajaran paling berharga justru ada di lapangan. Di sanalah kehidupan menjadi nyata, tidak teoretis.
Dalam hal ini, pemimpin memang harus turun ke lapangan. Mereka harus memenangkan dan menenangkan hati rakyat.
Rakyat berkhianat? Itu sudah biasa. Akan tetapi, pemerintah yang sudah dewasa tak akan peduli pada rakyat yang berkhianat. Mereka akan tetap turun ke lapangan. Dari sanalah mereka bisa mengetahui persoalan yang sesungguhnya.
Selamat bertugas Pak Bupati petarung!
====
Penulis Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, Pembina Sanggar Maduma, Guru SMA Negeri 1 Doloksanggul
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 6.000-7.000 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

