User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,605.00 11,635.00
SGD 9,233.80 9,273.25
JPY 113.08 113.72
MYR 3,532.01 3,569.72
CNY 1,856.70 1,870.35
THB 355.93 359.95
HKD 1,496.60 1,500.95
EUR 16,027.75 16,093.65
AUD 10,774.15 10,826.45
GBP 19,468.55 19,543.35
Last update: 24 Apr 2014 09:00 WIB
Agribisnis
Selasa, 30 Apr 2013 07:35 WIB - http://mdn.biz.id/n/26643/ - Dibaca: 1,540 kali
Wagimin, Petani Rimbang yang Tak Pernah Bimbang
PANEN BUAH RIMBANG Wagimin (55), memanen buah rimbang di dusun Kelantan Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang, Langkat. Dengan harga jual paling rendah Rp 9.000 per kilogram, Wagimin bisa berpenghasilan Rp 2,5 juta per bulan dari tanaman rimbang seluas 4 rate di lahan tumpang sari tersebut. (medanbisnis/misno.)
MedanBisnis - Langkat. Banyak petani sayur yang kondisinya memprihatinkan saat ini akibat banyak faktor, di antaranya harga jual yang tidak sebanding dengan biaya tanam, pemupukan, perawatan tanaman maupun pembelian pestisida. Tetapi petani yang mengembangkan tanaman rimbang (cepokak) mereka tidak pernah bimbang akan anjloknya harga maupun tingkat kematian tanaman tersebut.
"Harga jual rimbang saat ini lumayan bagus. Kami menolak ke penampung paling rendah Rp 9.000 per kilogram. Memang harga sebelumnya mencapai Rp 12.000 per kilogram.

Saat ini mengalami penurunan menjadi berkisar Rp 9.000 - Rp 10.000 per kilogram," kata Wagimin ( 55), seorang petani rimbang di dusun Kelantan Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang, Langkat ketika ditemui MedanBisnis, Senin (29/4).

Menurut petani rimbang yang pernah meraih sukses ini, keberhasilan menanam rimbang dikarenakan ketekunan dan menjiwai tanaman tersebut.

"Jika selama ini banyak petani yang kurang beruntung dengan tanaman rimbang, dengan alasan mati ketika tanaman berusia 4 bulan, mereka menduga unsur hara pada tanah tidak cocok untuk tanaman rimbang. Itu salah besar," kata Wagimin.

Perlu diketahui, kata dia, rimbang merupakan tanaman liar di hutan dan semak belukar, yang biasa tumbuh dengan sendirinya akibat biji buah rimbang dibawa burung dan hewan pemakan buah-buahan.

Tetapi tanaman liar itu bisa dikembangkan, jika perawatannya cukup, sepohon rimbang jika sudah berusia 3-4 bulan bisa memproduksi buah rimbang hampir 1 kilogram untuk sekali panen.

Artinya, setiap 10 hari buah rimbang yang ada dalam satu pohon bisa dipanen antara 6 - 9 ons. Karena bunga dan putik rimbang terus muncul tanpa henti dan tidak mengenal musim. Asal saja, tanaman rimbang diperoleh dari hasil stek.

Untuk keberhasilan tanaman lanjut Wagimin, pohon rimbang yang subur dan menghasilkan banyak buah, bisa dipotong batang mudanya untuk disemaikan dalam polybag yang sudah berisi tanah gembur bercampur dolomit dan kotoran ternak.

Setelah tumbuh setinggi 25 centi meter atau selama 1 bulan, bisa dipindah ke lahan yang sudah disediakan.

"Perawatannya ringan, dan jangan terlalu banyak menggunakan pupuk kimia, usahakan pupuk kandang. Tetapi penyemprotan pada daun menggunakan pupuk daun dan racun hama jangan sempat terlambat, setiap pekan harus dilakukan penyemprotan," terangnya.

Sebab lanjut Wagimin, daun pohon rimbang sangat disukai berbagai macam hama dan ulat. Jadi, kalau petaninya lalai, daun akan kering, tergulung dan layu serta gundul, hingga menuju kematian.

"Jika ini terjadi masih bisa diselamatkan dengan menghentikan pemberian pupuk pada batang atau akar tanaman, tetapi berikan penyemprotan meyeluruh pada pohon rimbang.

Sepuluh hari kemudian daun akan bertunas dan bercabang baru hingga mengeluarkan bunga dan putik buah. Asalkan jangan lupa melakukan penyemprotan dan perawatan rutin. Tanaman rimbang bisa bertahan hingga 4 tahun," jelasnya.

Dengan jumlah tanaman 100 pohon saja, jika satu pohon menghasilkan rata-rata 6 ons, setiap sepuluh hari bisa panen 60 kg, sekali jual bisa berpenghasilan Rp 500 ribu.

Berarti jika sebulan berpenghasilan Rp 1,5 juta. "Jika ada lahan seluas 8 rante kan tanaman rimbangnya sudah bisa mencapai 350 pohon lebih, maka petani itu bisa meraup uang sebanyak Rp 5 juta setiap bulannya. Petani kelapa sawit saja tidak sampai demikian penghasilannya," ungkap Wagimin. ( misno)
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
14 Okt 2013 23:39 WIB - novayanda78 mengomentari :
betul betul betul.....dmna bisa beli bibit nya ya...?
14 Okt 2013 23:39 WIB - novayanda78 mengomentari :
betul betul betul.....dmna bisa beli bibit nya ya...?
Partisipasi Menggunakan Facebook