User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
Ex. Ekspor atau Minyak
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,395.00 11,425.00
SGD 9,106.50 9,145.95
JPY 111.61 112.25
MYR 3,500.77 3,538.01
CNY 1,827.90 1,841.70
THB 351.92 356.21
HKD 1,469.30 1,473.65
EUR 15,755.95 15,821.45
AUD 10,670.35 10,721.35
GBP 19,167.55 19,242.05
Last update: 17 Apr 2014 09:00 WIB
Wacana
Selasa, 11 Jun 2013 07:02 WIB - http://mdn.biz.id/n/33971/ - Dibaca: 336 kali
Capres Parpol Islam
Elektabilitas partai politik berbasis Islam sebut saja PKS, PAN, PPP, PKB dan PBB memasuki Pemilu 2014, ternyata belum dapat mewarnai panggung politik nasional. Fakta yang ada menunjukkan, perolehan suara parpol berbasis nasionalis jauh meninggalkan suara partai politik berbasis Islam. Ini dapat dilihat dari hasil beberapa lembaga survei, perolehan suara partai politik Islam di bawah angka 5 persen.
Mengutip hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan, tingkat elektabilitas partai politik berbasiskan massa Islam mengalami penurunan jika dibanding partai politik nasionalis. Dukungan publik untuk lima besar semuanya berasal dari parpol nasionalis (berbasis kebangsaan), masing-masing yakni Partai Golkar (21,0 persen), PDIP (17,2 persen), Demokrat (14,0 persen), Gerindra (5,2 persen), NasDem (5,0 persen), dan belum menentukan pilihan sebanyak 13,4 persen.

Menurunnya perolehan suara partai politik Islam, banyak faktor yang melatarbelakanginya. Salah satu di antaranya, elite partai politik Islam masih berkutat pada persoalan ego sektoral, dan terkesan tidak mau mengalah, sehingga konsituen setiap Pemilu merasa tidak perlu untuk memilih partai politik Islam. Persoalan lain yang mendera partai politik Islam ini adalah, elite partai tidak melakukan perubahan strategi program dan kampanye, maka partai politik Islam dijauhi umat.

Krisis Capres
Seiring menurunnya tingkat elektabilitas partai politik Islam, ternyata diiringi turunnya kepercayaan terhadap tokoh-tokoh partai politik Islam. Tingkat pengenalan publik untuk tokoh Islam dari partai politik Islam ternyata masih di bawah 60 persen, atau kalah popularitas dengan tokoh dari partai nasionalis yang angkanya di atas 60 persen.

Hasil survei LSI juga menyebutkan, ternyata dukungan tokoh partai politik Islam masih di bawah 5 persen, seperti Hatta Rajasa (3,2 persen), Suryadharma Ali (2,1 persen), Muhaimin Iskandar (0,3 persen), Anis Matta (0,8 persen). Sedang dukungan tokoh partai nasionalis di atas 15 persen, yakni Megawati Soekarnoputri (20,2 persen), Prabowo (19,3 persen) dan Aburizal Bakrie (18,1 persen). Analisis yang bisa kita tarik dari hasil survey ini adalah, jika kondisi survei ini tetap bertahan, maka peluang tokoh parpol Islam ini untuk maju sebagai capres sangat kecil.
Sungguh ironi, ternyata penampilan kulit partai politik Islam "gemuk" dipandang mata. Tapi sesungguhnya sangat kropos isi dalamnya .

Mental elite politisi partai politik Islam ini semestinya sudah saatnya merubah haluan dalam kerja. Sudah saatnya meninggalkan kepentingan sektoral dan lebih memikirkan kepentingan lintas sektoral. Bahkan, kekuatan Islam sejatinya harus bersatu untuk melawan kelompok nasionalis. Celah dan peluang untuk menjagokan capres yang berasal dari partai politik Islam masih terbuka lebar. Apalagi, partai politik Islam memiliki basis-basis utama dalam mendulang suara, terutama dalam konteks penambahan kursi di legislatif, yang berujung kepada perebutan kekuatan pada pencapresan Pilpres 2014 mendatang.

Sepanjang kepentingan partai politik Islam tercerai berai, maka partai politik Islam kehilangan kepercayaan dari konsituennya. Banyak kekhawatiran yang muncul, bila hal tersebut terjadi di internal partai politik, bisa dipastikan partai politik hanya bisa sebagai penonton di Negara mayoritas umat Islam. Karena ada asumsi, kalau pemilih partai politik Islam, maka partai tersebut sesungguhnya tidak memperjuangkan aspirasi umat Islam. Maka sangat wajar, kalau sebagian umat Islam "lari" untuk tidak memilih partai Islam.

Beberapa alasan di atas, membuktikan bahwa partai politik Islam memang tidak berdaya dalam merapatkan barisan. Ego sektoral condong lebih dominan dan mengemuka, apalagi ketika memperbincangkan tokoh masa depan umat Islam untuk dicapreskan pada Pilpres nanti. Jika kita analisis satu per satu dari capres yang bakal muncul dari partai politik Islam, PKS misalnya memunculkan Hidayat Nur Wahida dan Anis Matta sebagai capres, Hatta Rajasa (PAN), Muhaimin Iskandar (PKB) dan Surya Dharma Ali (PPP). Dari empat partai politik ini, seluruhnya menyokong jagoannya untuk maju pada Pilpres 2014 nanti.

Menurut hemat saya, sudah saatnya partai politik Islam mengusung thema kebersamaan dalam mencapreskan calonnya dari partai politik berbasiswa Islam. Setidaknya, harus dibangun koalisi partai politik Islam, dengan menghilangkan ego sentral partai masing-masing, dan lebih mengedepankan kepentingan bersama, ketimbang kepentingan kelompok. Saya kira, inilah salah satu jalan untuk mengatasi partai politik Islam krisis capres. Minimnya tokoh representatif yang bisa diusung sebagai capres justru akan 'meminggirkan' peran politik partai Islam, di panggung perpolitikan Indonesia.

Mungkin kita dapat bercermin dari Pemilu 2004, umat Islam benar-benar terpuruk ketika masing-masing partai ngotot mencalonkan capresnya. Partai Islam malah mengusung dua pasangan dari lima kandidat yang ikut kompetisi. Mereka adalah Amien Rais yang diusung PAN dan Hamzah Haz yang digawangi PPP.

Penutup
Mengakhiri tulisan ini, saya kira perlulah elite partai politik melakukan muhasabah politik, agar elite partai politik Islam benar-benar kompak dan menyatu dalam mengusung capres. Andai partai politik Islam mengusung satu nama, maka kekuatan besar umat Islam akan nampak.

Penulis adalah dosen Fisipol UMSU, dan Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (Oleh:ANANG ANAS AZHAR )
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook